Akhir-akhir ini saya lagi senang menonton acara-acara yang mengadu manusia, seperti tinju, MMA, kickboxing, dan beberapa combat sport lainnya.
Entah kenapa seperti ada sesuatu yang berubah di dalam diri saya belakangan ini. Anehnya, saya mulai teringat kebiasaan almarhum ayah dulu. Setiap hari minggu selalu nonton tinju di televisi. Waktu itu saya tidak tau apa asiknya menonton orang saling beradu pukul.
Sekarang saya baru sadar dan mulai mengerti apa yang ayah dulu rasakan.
Senang Nonton Combat Sport
![]() |
| Produk Yakult. Foto: Dok. Pribadi |
Selasa, 16 September 2025. Pagi ini minggu kedua sales dari Yakult datang ke rumah untuk menawarkan produknya.
Saya masih ingat di pekan sebelumnya, ketika sedang terlelap di tengah hari bolong. Saya dikejutkan oleh suara orang di luar mengucapkan salam. Saya bergegas bangun, antara setengah sadar saya membuka pintu dan menemui orang tersebut.
Ternyata seorang sales dari Yakult. Awalnya ia hanya menawarkan produknya. Dengan panjang lebar ia menjelaskan manfaat yang sebenarnya saya sudah tahu, karena produk ini sudah ada sejak saya kecil dulu tapi jarang meminumnya.
Ia menawarkan dua rasa, ada Yakult rasa mangga dan yogurt. Saya memilih yogurt, karena lebih murah. Setelah saya bayar, ia berjanji akan datang lagi minggu depan. Ternyata benar, tadi pagi ia datang dengan senyuman khas di wajahnya.
Sebelum ia menawarkan, saya meminta agar diberikan Yakult yang masa expired-nya lebih panjang. Tapi ternyata menurut keterangannya, Yakult hanya bisa bertahan selama 40 hari setelah proses produksi. Oleh karenanya masa expired tidak terlalu panjang.
Kemudia ia menjelaskan bahwa produk ini tidak memakai bahan pengawet, itulah mengapa hanya memiliki batas 40 hari.
Tiba-tiba saja ia bertanya soal pekerjaan saya. Ia bingung kenapa pagi-pagi begini melihat saya di depan komputer dan menggunakan headphone.
Saya jelaskan bahwa saya cuma bekerja di rumah. Mengerjakan segala hal tentang IT, desain grafis, dan editing video.
Dia terperangah, dan mulai bertanya bagaimana saya mempelajari semua ini. Saya jelaskan bahwa semua hanya otodidak dan karena memang punya kesukaan di bidang tersebut.
Dia mulai curhat sedikit-sedikit, dan bercerita bahwa ia dulu pernah juga mengikuti kursus komputer untuk belajar desain grafis, namun tidak selesai karena kendala biaya.
Saya hanya manggut-manggut, dan menjelaskan kesempatan bekerja di bidang IT sangat terbuka lebar, khususnya di daerah. Jika bicara soal kota besar seperti Jakarta, mungkin sulit. Tapi di Banjarmasin belum banyak keahlian seperti ini dimiliki
Setelah selesai ia pun pamit. Terlihat senyuman tipis di wajahnya, semoga menambah semangat dalam hidupnya.
Sales Yakult
Selasa 9 September 2025, siang ini tidak terlalu panas, namun tidak juga turun hujan. Sesuai dengan prakiraan cuaca dari BMKG bahwa bulan ini hujan akan turun, langit berawan, dan udara kabur. Sepertinya musim panas sudah lewat.
Sayangnya di Banjarmasin mau iklim seperti apapun, selalu terdengar sirine pemadam kebakaran. Ya, kebakaran selalu terjadi di Banjarmasin.
Orang-orang lebih suka menyalahkan arus pendek listrik yang mengakibatkan korsleting sebagai penyebab kebakaran, ketimbang mengevaluasi dan mencari solusi.
Dari sisi mistis, mungkin saya akan berpikir lebih radikal. Jangan-jangan ada sesuatu yang salah dengan kota Banjarmasin.
Bayangkan, hampir setiap minggu selalu ada musibah kebakaran. Bahkan tak jarang dalam sehari bisa dua hingga tiga kejadian kebakaran di Banjarmasin.
Mungkinkah kota ini terkena tulah, sejenis kutukan orang dari masa lampau yang mungkin saja tidak diceritakan oleh orang-orang tua kita dulu. Entahlah.
Saya rasa menyalahkan lebih mudah daripada introspeksi diri.
Kenapa pemerintah kota tidak pernah mengevaluasi kejadian-kejadian seperti ini?
Bahkan terkesan membiarkan, seolah-olah kebakaran di Banjarmasin seperti bencana alam yang tidak bisa dihindari.
Saya masih ingat sekali sekitar tahun 2007, merantau ke Banjarmasin. Di tengah hari bolong, saat sedang tidur di kamar kos berukuran 3x4 meter, saya dikejutkan dengan bunyi sirine.
Cepat tanggap dan respons para relawan damkar terhadap kebakaran memang tidak perlu diragukan lagi. Super cepat, was wes wos. Meluncur laksana prajurit perang ke medan pertempuran.
Namun hal aneh mulai terjadi, besoknya ada lagi kebakaran. Setelah berminggu dan berbulan-bulan di Banjarmasin, saya mulai terbiasa.
Sejenak saya berpikir, jika saja pemerintah mau mengevaluasi kejadian-kejadian kebakaran yang kerap terjadi, saya rasa mereka akan menemukan solusinya.
Sayangnya, para pejabat tidak terlalu peduli dengan hal remeh dan solusi untuk rakyatnya. Mereka lebih senang kegiatan-kegiatan yang bisa menunjang citra baik di depan masyarakat.
Apalagi di zaman keterbukaan informasi seperti sekarang, mereka, para pejabat kota lebih suka sibuk di depan kamera. Berpose seolah menyatu dengan rakyatnya.
Saya rasa saat ini kita sedang hidup dalam dunia yang serba terbalik dan penuh kepura-puraan.
Internet dan sosial media membuat hal itu semakin membesar. Bahkan kehadiran Generative AI semakin memperkeruh suasana.
Orang-orang bisa dengan mudah membuat sebuah situasi yang palsu hanya dari prompt yang mereka kirim ke AI.
Jika 20 tahun lalu dunia maya hanya diisi oleh orang-orang nerd, kini semua orang menjadi nerd.
Batas antara dunia maya dan nyata semakin tipis. Orang-orang bisa saling tikam hanya karena berselisih di grup WA.
Kepura-puraan semakin menjadi-jadi ketika bahasa antar manusia tidak bisa lagi menjadi alat pemersatu.
Orang-orang mudah tersinggung hanya karena berbeda pendapat. Bahkan tak jarang kita terpaksa menyematkan emoticon senyum untuk menjaga suasana.
Begitulah jika kita hidup dalam kepura-puraan.
Antara Sirine, Sosial Media, dan Kepura-puraan
Senin 1 September 2025, jam menunjukkan pukul 00.40 WITA. Indonesia sedang tidak baik-baik saja, saya rasa itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan kegaduhan yang sedang terjadi di negeri ini.
Banyak hal telah terjadi di masa kepemimpinan presiden Prabowo, mulai dari kebijakan-kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat hingga kelakukan para pembantu presiden yang sepertinya tidak sejalan dengan visi presiden itu sendiri.
Saya katakan demikian, karena jelas terlihat. Setiap menterinya mengeluarkan kebijakan dan kemudian diprotes lalu viral. Presiden menjadi orang yang membersihkan kekacauan tersebut. Seperti tidak ada sinergi antara presiden dan para pembantunya.
Semua tentu masih ingat tentang kebijakan gas elpiji yang hanya diperbolehkan dijual oleh agen, sedangkan warung-warung dilarang menjualnya. Akibatnya membuat barang tersebut menjadi langka.
Tak hanya sampai di situ, kebijakan itu juga menelan korban jiwa. Seorang nenek berusia 62 tahun meninggal akibat antre gas elpiji. Beliau diduga kelelahan akibat usai berburu elpiji 3 kilogram yang saat itu langka di berbagai wilayah.
Kebijakan lain yang cukup mencekik masyarakat ialah kenaikan pajak yang dinilai semena-mena dan tidak disesuaikan dengan peghasilan masyarakat yang tidak bertambah.
Segala peristiwa terakumulasi, hingga puncaknya pada saat DPR mengumumkan gaji dan tunjangan untuk para anggotanya. Nilainya sangat fantastis, dan hampir di luar akal manusia. Diperkirakan anggota DPR bisa meraup gaji Rp 3 juta per hari.
Melihat kenyataan yang ada, masyarakat seolah tertampar dan menjadi marah, terutama mereka yang berada di kalangan bawah. Mereka yang berusaha memiliki penghidupan dan mencari uang untuk hidup dari hari ke hari.
Tak sedikit pula dari komentar netizen yang merasa menyesal berada di negeri ini, hidup dan tinggal di sini. Melihat para pemimpin dan wakil mereka seolah tidak memiliki empati.
Berita soal gaji dan tunjangan anggota DPR cepat meluas bahkan menjadi perbincangan dimana-mana. Keadaan semakin diperkeruh dengan menyebarnya video mereka terlihat sedang joget-joget saat pengumuman itu berlangsung. Meskipun telah dikonfirmasi bahwa joget-joget tersebut bukanlah rasa senang karena gaji dan tunjangan itu.
Namun masyarakat kadung marah dan kesal. Apalagi ketika ada media yang bertanya soal gaji dan tunjangan tersebut. Mereka, para anggota DPR bukannya menanggapi dengan serius malah menjawab dengan congkak.
"DPR tidak bisa disamakan dengan rakyat jelata," begitu kata salah seorang dari mereka.
Di lain sisi muncul protes dan penolakan terhadap gaji dan tunjangan DPR, sehingga muncul pernyataan "BUBARKAN DPR".
Salah seorang anggota DPR, Ahmad Sahroni menanggapi pernyataan itu dengan nada menantang dan ketus, bahkan mengatai mereka yang ingin DPR bubar adalah "ORANG TOLOL".
Otomatis, bak bensin yang tersulut api. Amarah masyarakat yang awalnya hanya dilampiaskan pada timeline di media sosial berubah menjadi murka dan demonstrasi di depan gedung DPR.
Tak hanya mahasiswa, hampir seluruh elemen masyarakat ikut menyuarakan aspirasinya. Meskipun diawali dengan aksi damai. Namun sebuah demonstrasi selalu berujung ricuh jika para wakil mereka yang duduk di senayan tidak bisa menghadirkan diri.
Di beberapa siaran media, ketimbang mahasiswa dengan almamaternya, saya lebih banyak melihat para pengemudi ojek online yang ikut berdemonstrasi.
Bentrok kemudian terjadi antara polisi dan para pendemo.
Jumat 29 Agustus 2025, menjadi akhir tragis bagi seorang pemuda berusia 21 tahun. Namanya Affan Kurniawan, dia tidak ikut berdemo.
Saat itu ia sedang mengantarkan pesanan untuk pelanggannya, di antara kerumunan para pendemo ia kemudian menyeberang jalan.
Untung tak dapat diraih, sial tak dapat dihindari. Ia terpeleset dan tertabrak oleh mobil rantis brimob, yang sangat disesalkan bukannya berhenti, mobil seberat 12 ton itu justru melindas tubuh kurus Affan. Hingga akhirnya meninggal di tempat.
Massa yang awalnya ingin membubarkan diri, kemudian balik mengejar mobil itu hingga ke markas brimob untuk meminta pertanggungjawaban dan keadilan. Saat ini sudah ditetapkan 7 orang tersangka dalam insiden tragis yang merenggut satu nyawa tak bersalah.
DPR yang seharusnya menjadi perpanjangan tangan dari rakyat dan hidup dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat seolah mati empatinya. Ini tidak menutup kemungkinan akan terjadi reformasi jilid dua jika presiden dan para penguasa tidak segera bertindak.
DPR, Demonstrasi, dan Matinya Empati
Latar Belakang
Perkenalan Awal Dunia Cryptocurrency
Awal Mula Investasi Crypto
Ngerjain Airdrop Sembari Investasi Crypto
PHK Massal, Ngerjain Airdrop hingga Investasi Bitcoin
Hujan deras masih mengguyur kota Banjarmasin. Rasa-rasanya sejak sore tadi, meski berangsur reda, basahnya masih terasa. Hari ini Jumat 6 September 2024, jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Namun, mata saya masih belum terasa lelah.
Kebiasaan begadang ini sepertinya tidak bisa hilang, entah sejak kapan ini bermula, saya pun lupa. Beberapa waktu belakangan, Indonesia ramai dengan berbagai pemberitaan soal demo mahasiswa, tentang anak presiden, dan tentang timpangnya penegakan hukum di negeri ini.
Saya mungkin bukan ahli hukum, tapi melihat fakta dan realita yang ada di lapangan, tidak sulit untuk mengatakan bahwa telah terjadi hal yang aneh dengan penegakan hukum di negeri ini.
Aneh tapi nyata, namun orang-orang di media sosial ramai menyebutnya "hukum di negeri ini, tumpul ke atas, tajam ke bawah".
Jika kamu bukan siapa-siapa dan 'miskin', lalu terjerat kasus hukum dan berurusan dengan kepolisian. Maka kamu hanya bisa berdoa dan berharap, bahwa mereka akan iba dan melupakan kasusmu. Karena sudah bisa dipastikan, hukumanmu akan berat sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
Akan tetapi lain hal jika kamu seorang yang memiliki kekayaan, jabatan, atau bapakmu seorang yang berpengaruh. Hukum di negeri ini bisa kamu beli.
Saya agaknya sudah muak dengan istilah 'oknum' yang mereka sematkan pada orang-orang yang ketahuan berbuat curang mempermainkan hukum.
Jika busuknya sudah tercium dan terbongkar, mereka selalu berdalih dan membela diri. prettt!
Selalu Tajam ke Bawah
Hari ini 17 Agustus 2024, bertepatan sama hari kemerdekaan Republik Indonesia. Setidaknya itu yang tercatat di buku-buku sejarah waktu sekolah dulu. Ini merupakan catatan pertama dalam 6 bulan terakhir setelah saya resmi menyandang gelar 'pengangguran'. Ternyata menjadi penganggur tidak susah-susah amat, jika uang pesangon kamu banyak.
Beruntungnya saya bekerja di tempat terakhir dapat pesangon yang lumayan banyak. Selama karir saya bekerja ikut orang, hanya kali ini setelah berhenti kerja merasa sangat bebas. Mungkin jika saya masih bekerja, kulkas yang sekarang berdiri di samping dapur itu tak akan pernah terbeli.
Tak hanya saya, beberapa kawan pun sepertinya agak merasa bersyukur dengan pemberhentian kerja tersebut. Semua memiliki dampak positif dan negatif. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihat.
Mereka bisa mengerjakan mimpi-mimpi yang tertunda. Namun buat yang dapat uang pesangonnya kecil, mereka hanya bisa berjaung kembali mencari pekerjaan lain yang lebih layak untuk menghidupi kehidupannya.
Berbicara tentang kehidupan, saya akhir-akhir ini sering merenung tentang kehidupan setelah mati. Saya langsung teringat kepada orang-orang dekat yang lebih dulu mati. Ada bang Herry, teman di komunitas tamiya. Ada Megawati dan satu orang yang lain, teman satu kampus. Sepupu di kampung, dan yang paling khusus, ayah saya sendiri.
Saya kemudian berpikir sambil merenung, "setelah mati, mereka kemana?".
Memang benar, mereka ada di dalam tanah dengan tubuh yang tak mampu lagi bergerak. Namun kita sebagai manusia yang masih hidup, memiliki kesadaran, ingatan, dan pikiran yang tentu saja tidak bisa digantikan.
Apakah benar manusia memiliki sesuatu yang disebut jiwa? atau itu hanya istilah rumit yang dimunculkan agar kita tidak perlu mengingatnya.
Bagaimana jika urusan kita di dunia belum selesai? ada banyak hal.
Saya pikir, tidak semua orang yang telah mati sudah menyelesaikan urusannya. Seperti teman satu kampusku, dia tidak menyelesaikan kuliahnya.
Atau bang Herry yang belum selesai merenovasi ruko yang sedang dibangunnya, padahal waktu itu dia berencana ingin membuat warung kopi. Atau mungkin ayahku. Dia mati ketika aku berada jauh darinya, dan belum melihat aku yang sekarang. Ah.... air mata saya mulai menetes.
Setelah mati kita kemana? kesadaran yang kita miliki akan kemana? dan semua ingatan yang telah kita lalui apakah akan hilang begitu saja?
Memikirkan Mati
![]() |
| Foto kenang-kenangan di hari terakhir bekerja di apahabar.com |
elfaqar - Beberapa minggu yang
lalu, saya bermimpi buruk. Saya benar-benar takut mimpi itu jadi kenyataan. Sekilas
ingatan saya di dalam mimpi tersebut, berlatar pintu depan kantor tempat saya
bekerja. Saat itu jam makan siang, seperti biasa saya duduk di depan. Tiba-tiba,
bos mengatakan, “zul, ini uang pesangon
kamu”, sambil menyodorkan uang selembar 100ribu.
Sontak, saya bangun dari tidur dan langsung menyadari bahwa
itu hanya mimpi. Namun reflek, saya langsung berkata kepada istri saya yang
saat itu tidur di sebelah saya, “saya
mimpi buruk”.
Hari-hari dilewati seperti biasa. Saya sudah hampir
melupakan mimpi itu.
Namun tak lama, berhembus kabar buruk. Bahwa kantor kami
yang ada di Jakarta tutup total, dan semua karyawannya diberhentikan secara
tiba-tiba.
Saya akan bercerita dari belakang tentang kejadian itu.
Akhir Januari 2024 di minggu ke empat, saya diberi instruksi
menghapus sebuah berita yang diterbitkan oleh Jakarta. Malam itu langsung saya
kerjakan, tanpa tahu kenapa.
Paginya, bos datang ke kantor dengan mood yang buruk. Beliau
ngamuk dan marah-marah soal berita tersebut.
Esok harinya, beliau langsung terbang ke Jakarta, saya pikir apakah sebegitu urgent-nya kah hal tersebut. Beberapa hari kemudian, terdengar kabar bahwa kantor kami yang ada di Jakarta tutup total, dan terjadi PHK massal.
Kabar tersebut berhembus dengan cepat, seperti peluru yang
menghujam dada. Semua was was. Namun ada juga yang masih terlihat santai,
seolah hal itu bukan apa-apa.
Di awal Februari 2024, bos tiba-tiba mengadakan rapat
penting bersama beberapa orang petinggi di kantor. Salah satu IT kami pun ikut
dibawa rapat.
Alhasil, menurut info yang tersebar di lingkungan kantor, kami
akan berganti nama website. Saya pikir saat itu, apakah sebegitu parahnya kasus
tersebut sehingga kita harus ganti nama?
Namun beberapa karyawan ada yang mulai was was dengan hal
tersebut. Saat itu saya masih berpikir positif.
Senin, 5 Februari 2024. Bos mengumpulkan kami semua, dan
menyatakan bahwa kantor harus tutup lalu semua karyawan diberhentikan. Dikarenakan
investor tak ingin lagi berhubungan dengan media yang kami jalankan.
Seperti geledek di siang hari, saat itu saya hanya terdiam. Langsung
terbayang di pikiran saya tentang cicilan rumah yang baru jalan setahun lebih,
dan anak yang sebentar lagi mau masuk SMP.
Di saat rapat itu, saya hanya menggut-manggut kecil. Tak berani
bersuara, saya takut air mata ini menetes.
Selesai rapat, siangnya kami makan-makan bersama. Tertawa bersama, keceriaan muncul, seolah tak terjadi sesuatu yang buruk. Namun saya tau, itu hanya tawa palsu. Saya tidak bisa ikut tersenyum. Karena saya bukan manusia palsu.
Ketika Mimpi Buruk Jadi Kenyataan
elfaqar - Halo teman-teman semua, bagaimana kabarnya? Semoga baik-baik saja.
Hari ini aku ingin berbagi sedikit pengalaman soal pekerjaan yang asyik.
Banyak yang bilang kalau kita kerja sesuai passion dan kegemaran, itu asyik dan menyenangkan.
Menurutku itu bohong. Kenapa?
Karena kalau udah masuk ke dunia kerja, otomatis akan ada tuntutan yang muncul,
dari dalam maupun dari luar kerjaan itu.
Jadi, kerjaan yang katanya sesuai passion
itu asyik, udah jadi gak asyik asyik amat.
Dulu, aku pernah termakan oleh mindset yang
seperti itu. Bahwa bekerja sesuai passion itu asyik.
Karena hobi komputer, dan ada pengalaman ngerjain
desain. Aku memutuskan untuk menjadi desainer grafis.
Nah, selama bertahun-tahun sejak 2010 aku
kerja sebagai desainer grafis di beberapa percetakan di Banjarmasin.
Pekerjaan yang awalnya asyik, lama kelamaan
jadi tidak asyik. Desainer grafis selalu ditekan oleh deadline dan pekerjaan
yang menumpuk. Kerjaan banyak, bonus pun gak ada.
Boro-boro bonus, malahan di beberapa
percetakan goblok di Banjarmasin menggratiskan tenaga desainernya untuk diperas
oleh klien dan bosnya sendiri.
Dan sialnya di Banjarmasin masih ada
percetakan yang tidak membayar upah desainer secara layak.
Balik lagi ke pengalaman pribadiku, di
tahun 2012 aku putuskan untuk resign dari bekerja di tempat orang menjadi buka
usaha cetakan sendiri.
Dalam pikiranku saat itu, aku terbebas dari
cengkeraman korporat. Aku bisa melanjutkan pekerjaanku yang asyik ini tanpa
tekanan dari siapapun.
Tekanan emang hilang, tapi tagihan sewa
kios ada terus tiap bulan. Mana order sering sepi. Pasnya ada, malah sering
ngutang.
4 tahun kemudian usahaku gulung tikar.
Aku baru sadar, ternyata tidak ada
pekerjaan yang asyik. Walaupun itu sesuai dengan passion yang kita jalani.
Jadilah aku sekarang, bertahan sebagai
budak korporat. Melaksanakan perintah atasan, sesuai kehendak mereka. Rasanya seperti
ini lebih damai ketimbang bekerja sendiri.
Tidak Ada Pekerjaan yang Asyik
elfaqar - 1 Agustus 2022, kali ini saya ingin bercerita sedikit tentang kegaduhan yang dialami bangsa ini beberapa hari terakhir.
Sejak 30 Agustus lalu Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia (KOMINFO) resmi memblokir beberapa platform, padahal notabene platform tersebut lumayan banyak dipakai oleh orang di Indonesia.
Alasannya, karena mereka tidak mendaftarkan diri sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE). Walhasil, platform dan situs-situs tersebut diblokir oleh KOMINFO.
Jagat maya sempat gaduh, hampir di semua media sosial mengeluh tentang kebijakan tersebut. Terlebih bagi mereka freelancer, streamer, web/game developer dan gamer.
Ada 2 platform yang menjadi pemicu kegaduhan tersebut, yakni paypal dan steam.
Pasalnya, 2 platform ini memiliki andil besar dalam tumbuh
kembangnya dunia digital dan gaming di Indonesia. Tapi ketika tiba-tiba
diblokir, geramlah warganet.
Sebagai informasi, paypal merupakan platform digital yang
memungkinkan seseorang dapat mengirim uang dari satu tempat ke tempat lain. Sederhananya
seperti bank digital, namun tanpa biaya administrasi tiap bulannya.
Hampir semua situs freelance dimana para pekerja seni
digital ini mencari cuan menggunakan paypal sebagai media pembayarannya. Hal
tersebut karena paypal mudah digunakan dan tidak perlu syarat yang terlalu
merepotkan.
Selain itu, ada steam. Siapa yang tidak kenal platform
gaming yang satu ini. Tidak hanya gamer, namun developer game dari Indonesia
juga banyak memasarkan game nya di sana.
Steam salah satu layanan gaming yang cukup populer di
kalangan para gamer, bahkan platform yang satu ini cukup taat bayar pajar.
Pasalnya, setiap pembelian game di steam selalu disertakan dengan pajak yang
dibayarkan ke kas negara.
Alih-alih mendukung, pemerintah Indonesia justru memblokir
platform game tersebut.
Cacian dan Hujatan Netizen
Ya, sumpah serapah dan cacian dilemparkan oleh mereka yang
kesal terhadap KOMINFO. Tak hanya itu, netizen juga menguliti beberapa petinggi
di kementerian tersebut.
Sebutlah Johnny G Plate, yang sekarang menjabat sebagai Menterinya. Tidak sedikit yang menghujat dan mencemooh. Pasalnya, setelah diselidiki ternyata orang ini tidak memiliki latar belakang apapun terhadap dunia IT.
Alih-alih memiliki pengalaman mengurus dunia informatika,
Johnny justru seorang pebisnis yang memulai karirnya dengan berjualan alat-alat
perkebunan di tahun 80an. Sangat tidak nyamung.
Selain para petinggi, beberapa geek di negeri ini juga ikut
menguliti website yang dibuat oleh kementerian tersebut. Banyak kejanggalan
yang bertolak belakang dengan kebijakan yang mereka buat. Website yang bernilai
ratusan miliar tersebut hanya dibuat menggunakan code template yang mereka
comot di github. Luar biasa.
KOMINFO Blokir Platform Penting, Panen Hujatan dari Netizen
elfaqar - Namanya Amaq Sinta, pria NTB berumur 34 tahun ini kemudian mendadak viral setelah kasusnya menyeruak secara tidak wajar di khalayak ramai.
Pasalnya, polisi menetapkan dirinya sebagai tersangka atas tewasnya
2 orang begal yang berusaha merampas harta bendanya.
Tak pakai lama, netizen Indonesia gercep mengeluarkan
sindiran dan kritikan atas kasus tersebut. Pada akhirnya, Amaq Sinta dibebaskan
dari tuduhan tersebut atas dasar pembelaan diri. Memang begitulah seharusnya.
Ketika itu, pria yang tak pernah mengecap bangku sekolah ini terpaksa meladeni 4 orang begal saat dirinya mengantarkan makanan untuk ibunya.
Selanjutnya, dia melawan para pelaku dengan sebilah pisau kecil yang dibawanya sambil teriak meminta tolong. Namun tidak ada warga yang datang.
Dalam kejadian itu dua pelaku tewas setelah bersimbah darah.
Sedangkan dua pelaku lainnya melarikan diri setelah kawannya tumbang.
Meski sempat terkena sabetan senjata tajam di bagian
belakang, ajaibnya tubuh Amaq Sinta tidak mengalami luka sedikitpun. Ia mengaku
hanya merasa sakit di badan setelah peristiwa tersebut.
Layaknya manusia yang bertuhan, ia menampik bahwa dirinya
memiliki ilmu kebal.
"Saya tidak ada
kepandaian dan tidak memiliki ilmu kebal. Tapi ini memang saya dilindungi
Tuhan," katanya.
Saya hampir bisa membayangkan bagaimana heroiknya
pertarungan 1 vs 4 antara Amaq Sinta dan para begal, mungkin saja seperti
pertarungan Iko Uwais melawan para penjahat di film Merantau.
Pertarungan 1 vs 4 Menang, Amaq Sinta: Saya Tidak Punya Ilmu Kebal
elfaqar - Beberapa waktu yang lalu santer terdengar kabar soal kasus trading binary option. Ada Binomo, Quotex, Olymptrade, dan lain-lain. Kita semua tentu sudah tahu, bahwa aplikasi yang mengatasnamakan dirinya sebagai “aplikasi trading” itu ialah separuh berjudi.
Kata master Gema, “seperti jualan narkoba di apotek”
Namun, yang menyita perhatian ialah ditangkapnya para
afiliator aplikasi binary option tersebut. Mereka digolongkan sebagai penipu
investasi bodong. Entah dari mana kesimpulan tersebut. Sepertinya Bareskrim
Polri perlu seorang ahli untuk menuntaskan kasus ini.
Saya tidak memposisikan diri sebagai yang membela para
afiliator tersebut. Yang saya sayangkan, kurangnya edukasi soal investasi, dan
keinginan untuk cepat kaya sehingga membuat orang-orang kalap dan menghabiskan
uangnya untuk berjudi di sana. Tentu saja dengan dalih “trading”.
Saya berani mengatakan bahwa yang mereka (para pelapor) lakukan
di aplikasi itu ialah berjudi. Karena saya pernah menjalaninya. Tidak banyak,
hanya 100ribu. Ketika saya lihat ada yang janggal langsung saya tinggalkan.
Tidak mungkin saya akan kalap dengan menghabiskan uang
puluhan juta dengan berjudi (hanya orang goblok yang melakukannya).
Saya lebih memilih membeli koin dan token micin, membeli
saham, atau berinvestasi di kripto ketimbang memainkan binary option.
Paling banter saya akan main futures jika ada duit berlebih,
kenapa? Karena jelas dan cukup menguntungkan. Tidak percaya? Silahkan cari
sendiri pengertiannya di mbah google “trading futures”.
Balik lagi ke kasusnya para afiliator binary option.
Pada akhirnya, negara menerima laporan dan memprosesnya. Negara
membela para penjudi itu. Ini hanya konflik antara penjudi yang kalah dan yang
menang, tidak lebih. Saya rasa begitu.
Para afiliator seperti Indra Kenz, Dony Salmanan, dan beberapa lainnya kini harus menanggung pesakitan yang dituduhkan kepada mereka oleh para penjudi yang kalah.
Konflik Para Penjudi yang Mengaku Trader
elfaqar - Beberapa waktu yang lalu, bertepatan datangnya Jokowi ke Banjarmasin, ada demo yang dilakukan oleh kawan-kawan mahasiswa di depan kantor DPRD Kalsel. Mereka ingin bertemu dengan Ketua DPRD Kalsel untuk menyampaikan aspirasinya. Sayangnya niat mereka kandas, karena saat itu kantor DPRD sedang sepi.
Kelompok demonstrasi yang mengaku perwakilan BEM se-Kalsel
(padahal dominasi perguruan tinggi dari Banjarmasin) ini pun akhirnya hanya
melakukan orasi dan aksi di tengah trotar jalan.
Tak hanya di Banjarmasin, hari itu di beberapa kota lainnya,
mahasiswa serentak melakukan demonstrasi demi memperingati 7 tahun rezim
Jokowi. Aksi terbesar di Jakarta Pusat.
Kembali ke Banjarmasin. Beberapa bulan terakhir, seringkali
terjadi demo mahasiswa di Banjarmasin.
Saya senang dengan beberapa aksi mahasiswa, ini menunjukkan
kepedulian para intelejensia terhadap isu-isu yang tengah berkembang di masa
sekarang. Namun ada yang mengganjal. Apakah ini murni soal memperjuangkan
kepentingan rakyat? Atau ada hal politis di baliknya? Hanya Tuhan dan korlap demonstrasi
yang tahu soal itu.
Ramai sekali isu nasional dibawa ke daerah yang kemudian
mengakibatkan gelombang demonstrasi cukup besar.
Sebagai calon penerus generasi, tidak ada salahnya untuk
peduli terhadap beberapa isu nasional. Namun, alangkah baiknya jika aksi
tersebut benar-benar murni dari hati nurani mereka sendiri, tanpa ada dompleng
dari pihak manapun. Terlebih dari partai politik, yang kerap kali menyisipkan
beberapa agenda mereka melalui organisasi ekstra kampus.
“Gajah di pelupuk mata
tak tampak, semut di seberang lautan kelihatan”
Peribahasa di atas cukuplah untuk menggambarkan apa yang
sedang terjadi hari-hari belakangan ini.
Ketika para intelejensia turun ke jalan menanggapi soal
bobroknya pemerintahan Jokowi, mereka lupa bahwa kota tempat mereka tinggal
juga memiliki pemimpin.
Semua kebijakan dan eksekusinya pada akhirnya bermuara
kepada orang-orang yang berkuasa di lini bagian bawah. Mulai dari Ketua RT/RW,
Lurah, Camat, Bupati/Walikota, hingga Gubernur.
Mahasiswa, sebagai kontrol sosial sebaiknya lebih peka
terhadap beberapa permasalahan yang sedang terjadi di dekatnya.
Jika mahasiswa UI melakukan demo di depan istana
kepresidenan, hal ini terlihat wajar. Kenapa? Ini terkait soal tempat. Namun,
akan terlihat konyol ketika mahasiswa dari kampus yang ada di kota lain
tiba-tiba ikutan demo di depan istana. Sedangkan, agenda demonstrasi saat itu
hanya sekadar untuk memperingati lamanya rezim berkuasa.
Berbeda halnya saat demo tahun 1998, ketika itu suasana di
berbagai daerah di Indonesia sudah tidak lagi kondusif. Oleh karenanya,
mahasiswa dari berbagai kota pun berbondong-bondong pergi ke pusat Ibukota.
Sebab, di situlah letak permasalahan utamanya (Soeharto berkuasa terlalu lama),
di situlah kanker kekuasaan itu bercokol. Serta harus dicabut hingga ke
akarnya. Sayangnya, hanya batangnya saja yang mampu ditebang.
Kini, zaman telah berubah. Saya rasa demonstrasi tak akan
mampu lagi menggoyahkan kekuasaan. Tidakkah beberapa mahasiswa itu berpikir
seperti ini?
Jika pun ingin melakukan demonstrasi, lebih baik untuk bisa
mengangkat hal-hal yang konkret. Khususnya di daerah.
Tidakkah para intelejensia itu sadar bahwa ada yang tidak
beres dengan kota ini (Banjarmasin)?
Banjarmasin, Kota Seribu Sungai
Tidak perlu muluk-muluk tentang permasalahan di Kalsel pada
umumnya. Lihatlah Banjarmasin, kota yang dulu berjuluk “Seribu Sungai”, kata
itu mulai terkikis substansinya. Mungkin di masa depan hanya akan menjadi kata
legenda untuk anak cucu kita kelak, dan mereka akan bertanya kepada ayahnya, “mana sungainya?”
Fungsi sungai di Banjarmasin tidak sepenuhnya berjalan.
Pembangunan yang terfokus kepada infrastruktur di darat, kini mengabaikan
sungai. Kenyataannya, sungai di Banjarmasin oleh pemerintah kotanya hanya
diperlakukan sebagai objek wisata belaka.
10 tahun yang lalu, saya mendambakan sungai di Banjarmasin
bisa seperti sungai di Venezuela. Terjaga, asri, dan berfungsi. Ternyata itu
cuma mimpi. Saya sadar para pejabat kota lebih sibuk membangun di darat
ketimbang di sungai. Dinas terkait sepertinya hanya sibuk mengurusi yang ada di
darat saja.
Tidak percaya? Lihatlah betapa butek dan kotornya sungai di
Banjarmasin. Di sungai Banjarmasin kita akan dengan mudah mendapatkan sampah,
ketimbang ikan untuk dipancing.
Ketika sungai sudah tidak terjaga, maka ekosistem di
dalamnya pun perlahan akan mulai punah. Lihatlah apa yang terjadi pada hutan di
Kalimantan, khususnya Kalsel. Penebangan hutan (legal dan ilegal) sebagai
tempat industri, pemukiman, dan penambangan membuat Bekantan kehilangan
habitatnya. Sungai juga begitu.
Bukan tidak mungkin beberapa puluh tahun ke depan (jika
tidak ada gebrakan dari penguasa di daerah) beberapa hewan di air akan
mengalami kepunahan.
Jika ada yang mengatakan bahwa transportasi sungai sudah ketinggalan zaman. Ini hanya alasan mereka yang malas berpikir untuk menjalankan fungsi jabatannya.
Demonstrasi, Banjarmasin, dan Para Intelejensia
elfaqar - Senin, 25 Oktober 2021. Saya agak gusar belakangan ini, melihat beberapa postingan di dunia maya yang semakin brutal. Pamer harta benda, kemudian memberikannya kepada orang-orang miskin.
Sebagian dari kalian mungkin berpikir bahwa saya hanya iri
saja, karena tidak mampu melakukan hal serupa. Seperti itu mungkin ada di dalam
lubuk pikiran terdalam, walau hanya sepersekian persen.
Entah siapa yang memulainya dan kapan ini bermula, orang-orang
kaya mulai berderma dan merekam hal tersebut di gadget mereka kemudian
menyebarkannya di media sosial.
Awalnya saya senang melihat perilaku seperti itu, namun lama
kelamaan saya mulai heran. Kemudian muncul beragam pertanyaan di otak kecil
ini.
Haruskah memerkan diri saat berderma, bersedakah, dan
membantu orang-orang miskin?
Jika cerita Zorro dan Robin Hood itu nyata, apakah mereka
akan bersikap sama seperti itu?
Jika dunia modern dan gadget canggih sudah ada di masa
sahabat Nabi, apa mungkin Umar bin Khattab akan melakukan hal yang sama?
Kurangkah Raqib sebagai pencatat amal kebajikan dan Tuhan
sebagai saksinya?
Fenomena ini masih berlangsung hingga sekarang, merambah ke
dunia artis dan influencer khususnya di Ibukota. Sebut saja Baim Wong, Atta
Halilintar dan sederet nama lainnya yang saya lupa namanya.
Tidak ada yang salah dari perbuatan baik mereka kepada orang
yang kurang mampu, namun lama kelamaan fenomena pamer sedekah ini membuat saya
muak.
Begitu sangat inginkah mereka memiliki penonton yang banyak
di channel youtube nya? Sampai-sampai harus memamerkan segalanya di khalayak
ramai.
Begitu sulitkah menyembunyikan perbuatan baik dari tangan
kiri?
Entahlah saya tidak begitu mengerti pikiran orang-orang kaya.
Fenomena Itu Bernama Pamer Sedekah
elfaqar - Beberapa hari yang lalu di kantor tempat saya bekerja, dimulai pendataan bagi mereka yang belum mendapatkan vaksin Covid-19. Katanya sih wajib.
Mau tidak mau saya dan keluarga pun ikut, karena tidak ingin
bermasalah terkait administrasi di kemudian hari. Menurut kabar yang beredar,
bahwa bukti vaksin ini nantinya akan dimasukkan ke dalam sistem administrasi.
Namun, saya agak merinding ketika membaca beberapa berita
soal orang-orang yang mati setelah mendapatkan vaksin. Saya pun bertanya,
terkait jika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi setelah vaksin.
S: Saya
P: Pendata
-------------------------------------------------------
S: Vaksin ini wajib bu?
P: Iya, istrimu sudah vaksin?
S: Belum
P: Kalau gitu ikutkan saja di sini
S: Iya (walaupun dengan agak berat hati), kalau misalkan
terjadi sesuatu setelah vaksin siapa yang akan tanggung jawab bu?
P: Kamu punya penyakit bawaan?
S: Tidak tahu
P: Coba periksa
S: (dalam hati berfikir) boro2 periksa penyakit, biasanya
kalau sakit Cuma kerokan atau minum obat di warung.
Jika pun nanti kita mati setelah vaksin, dan orang yang
divaksi disalahkan, ingatlah hal ini.
Tidak semua orang taraf hidupnya sama, tidak semua orang
pergi ke dokter jika sakit. Kami golongan menengah ke bawah terbiasa dengan
pengobatan tradisional dan beli obat di warung.
Terkadang apapun penyakitnya, obatnya tetap itu-itu saja.
Berbeda dengan mereka kalangan atas, yang jika bersin dan
menggigil sedikit saja langsung pergi periksa ke dokter.
Kan sekarang sudah ada BPJS Kesehatan? Jadi bisa gratis.
Saya katakan, bahwa realita tidak seindah ekspektasi.
Jadi, jika kita mati setelah vaksin siapa yang nanggung? Saya
kira, kita akan tanggung sendiri kematian itu.
Vaksin Itu Wajib, Tapi Mati Tanggung Sendiri
elfaqar - Sebelum ingatan saya hilang tentang ini, saya ingin bercerita di sini jika suatu saat saya lupa tentang semua.
Kejadian ini bermula ketika saya masih kelas 2 atau 3 SD
(agak lupa).
Hari Sabtu, sekolah pulang lebih awal. Seperti biasa, hari ini
mengenakan seragam pramuka. Jam menunjukkan sekitar pukul 11 WIB, saatnya
pulang.
Saya pun keluar gang dan menunggu jemputan ayah, karena
kebetulan ayah pulang kerja lebih awal hari Sabtu ini.
Saya duduk bersandar di sebuah dipan. Berada tepat di samping
pohon jambu biji. Tapi di bawahnya ada sungai, namun saat itu air sungai sedang
surut, jadi terlihat seperti becek-becek hitam saja.
Saat sedang asyik duduk menunggu ayah, saya lihat ada sebuah
ranting yang bentuknya mirip ketapel. Pikir saya saat itu, lumayan buat main di
rumah.
Saya putuskan untuk menjangkau ranting tersebut.
Saat itu posisi saya sedang berpegangan di sandaran dipan. Entah
nahas atau apa, tiba-tiba ada bunyi ‘krek’ dari bawah dan seketika penyangga
dipan yang di bawah itu pun patah.
Saya tercebur ke dalam air hitam becek. Kaki saya terbenam
di dalamnya, secara reflek saya berteriak, “tolonggg”
Untunglah di sekitar situ ada ojek sedang mangkal, saya pun
di tarik ke atas. Cepat-cepat saya bersihkan diri, celana pendek dan sepatu
saya hitam karena lumpur.
Sekitar 15 menit kemudian ayah datang, tanpa banyak omong
saya langsung naik ke motornya.
Sepanjang perjalanan ayah tidak tahu, bahwa saya habis
kecebur lumpur.
Tapi sesampainya di rumah, ia curiga dengan bau comberan. Terlebih
di bagian sepatu masih terlihat hitam akibat lumpur. Saat itu juga saya kena
pukul.
“pantas saja sepanjang jalan ada bau tai,” ucapnya.
Sebelum Ingatan Ini Menghilang
elfaqar - Hari ini Kamis, 5 Agustus 2021. Sudah sejak beberapa hari yang lalu bumi lambung mangkurat selalu basah tanahnya oleh hujan. Namun, frekuensinya tidak pasti. terkadang siang, sore, ataupun malam.
Pandemi masih menyelimuti negeri yang saya cintai. Virus ini
seperti teror yang selalu menghantui kehidupan kami sehari-hari. Orang-orang
pun semakin hari semakin paranoid satu sama lain.
Batuk sedikit, bersin sedikit, langsung dikira memiliki gejala.
Pemandangan yang dulu hanya saya lihat setiap ada festival
jejepangan, kini dapat kita temui sehari-hari. Orang-orang memakai masker
kemana-mana, dan dalam hati saya berkata,
“semua akan wibu pada waktunya”
Bagi saya seorang perokok, pasti selalu mengalami batuk
sesekali.
Namun batuk tidak sebebas dulu, tidak cukup hanya dengan
menutup mulut saat batuk.
Kini, ketika suara batuk keluar, setiap pasang mata selalu
tertuju pada orang yang batuk tersebut. Bahkan untuk batuk pun kita tidak
memiliki kebebasan.
Saya bukannya tidak percaya kepada virus yang sekarang
sedang menjadi pandemi, saya hanya tidak percaya kepada mereka otak-otak busuk
yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan orang-orang yang sedang
menderita.
Dugaan buruk saya terbukti ketika di beberapa daerah di
Indonesia terdapat oknum petugas medis yang sengaja memalsukan dokumen
pasiennya. Semua demi uang.
Itu baru bagian bawah saja.
Di kalangan atas lebih brengsek lagi, di tengah kericuhan
seperti ini masih ada yang sempat-sempatnya mengkorupsi dana bantuan sosial. Yang
lebih parahnya lagi, itu dilakukan oleh seorang menteri.
Negeri ini kelewat edan.
Pandemi di Bumi Lambung Mangkurat
elfaqar - Beberapa waktu yang lalu mencuat di media soal seorang mahasiswi yang berurusan dengan pihak berwajib karena diduga terpapar radikalisme. Pasalnya ia mendebat soal pancasila, serta mempertanyakan eksistensi pancasila, terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini.
Kenapa hal ini bisa terjadi?
Apakah pemerintah dan aparat terlalu berlebihan menanggapi
hal tersebut?
Mari kita kupas secara perlahan.
Dulu sewaktu masih kuliah, saya masih ingat pernah melihat
seorang kawan mendebat pancasila di sebuah ruang diskusi.
Kebetulan saat itu mata kuliah yang diajarkan adalah
Kewarganegaraan. Tentu saja yang menjadi bahan perdebatan adalah soal
pancasila.
Menurutnya pancasila tidak relevan dengan kehidupan
bernegara yang sedang terjadi. Terjadinya ketimpangan sosial menunjukkan, bahwa
pengamalan sila ke empat hanya sekadar simbol belaka.
Apakah mengkritisi hal tersebut dianggap sebagai suatu hal
yang radikal?
Ya, kala itu berpikir secara radikal sangat dibutuhkan di
ruang diskusi.
Namun, setelah selesai diskusi tidak ada terjadi apa-apa, apalagi
berurusan dengan pihak berwenang.
Apa poin yang ingin saya sampaikan?
Kita sekarang hidup di zaman era keterbukaan informasi,
dimana semua informasi sangat mudah didapat dan disampaikan melalui media
internet.
Terlebih dengan adanya UU ITE di Indonesia, yang mana
peraturan tersebut dapat menjadi buah simalakama. Inilah yang menyebabkan seorang
mahasiswi ULM berurusan dengan pihak berwenang.
Berbeda dengan belasan tahun yang lalu, dimana informasi
hanya terkungkung di dalam suatu wadah, yaitu media massa (koran, radio, televisi,
dll).
Di masa itu, untuk menyebarkan suatu informasi kita harus
memiliki media yang cukup berpengaruh di dalam khalayak ramai. Setidaknya ada
organisasi ataupun lembaga sebagai tempat kita berlindung jika sewaktu-waktu
terjadi hal yang tidak diinginkan.
Sekarang, tidak ada dinding pemisah antara khalayak ramai
dan pendapat yang kita keluarkan. Setiap dari kita dengan mudahnya menyalurkan
pendapat tentang segala hal. Namun sayangnya, kita kadang kebablasan.
Kembali ke ruang diskusi belasan tahun yang lalu.
Ketika itu, substansial pembahasan hanya cukup sampai di
kampus, tidak pernah bocor ke ruang publik. Lalu, berbicara tentang
radikalisme. Saya rasa dulu lebih radikal ketimbang sekarang, yang berbeda
hanya ruangnya saja.
Bahkan saya sendiri secara pribadi pernah memprotes
kebijakan kampus yang mewajibkan mahasiswa untuk pergi KKN ke Bali, karena saya
tahu ketika itu tidak semua orang yang berkuliah itu kaya. Ada yang hanya
mengandalkan dari uang beasiswa, ada pula yang hanya mengandalkan dari hasil
penjualan tanah ayah dan ibunya di kampung.
Oleh karena itu, saya memilih untuk berpikir radikal. Saya luapkan
protes ke dalam secarik kertas yang kemudian saya perbanyak dan ditempel di
setiap belakang pintu WC. Hasil yang didapat? Saya mendapatkan sentimen yang
cukup negatif dari beberapa orang dosen.
Kala itu, banyak pikiran radikal yang berkeliaran di kampus.
Namun itu hanya sebatas di kampus.
Kasus mahasiswi yang sekarang sedang terjadi berbeda, ia
berkoar di media yang seluruh dunia bisa melihatnya. Setiap kalimat yang
dilontarkannya di dalam video tersebut menjadi amunisi yang terus menerus
memborbardir pikiran mereka yang melihatnya.
Namun ia lupa, benteng pertahanannya cukup lemah. Pada akhirnya
ia harus berurusan dengan hal yang di luar batas kemampuannya.
Di publik ia memang terlihat seperti seorang pahlawan yang
sedang memperjuangkan kebenaran, namun seorang koboy pun akan lari terbirit-birit
jika menghadapi satu pleton pasukan tempur yang bersenjata lengkap. Taktik
gerilya tidak akan mampu untuk melawannya.
Sebaiknya, mahasiswa lebih mampu mengontrol ‘keradikalannya’ dengan perhitungan yang cermat. Satu hal yang perlu diingat, kita hidup di zaman yang berbeda dimana arus informasi melaju dengan kencang seperti di jalan tol tanpa batas. Maka, bijaklah berkendara.
Pancasila, Pandemi dan Mahasiswi yang Terpapar Radikalisme
elfaqar - Setelah beberapa tahun tidak melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman, akhirnya saya dan keluarga memutuskan untuk pulang kampung.
Tepatnya 30 Mei lalu, kami sekeluarga berangkat ke tanah kelahiran saya, Kotabaru, pulau tersendiri di ujung pulau Kalimantan sebelah Selatan.
Perjalanan memakan waktu sekitar 6 hingga 8 jam ke Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu. Kemudian dilanjutkan perjalanan menyeberang menggunakan kapal feri sekitar 30-45 menit. Lanjut lagi perjalanan darat dari pelabuhan ke destinasi tujuan sekitar 1-2 jam. Jadi total perjalan memakan waktu sekitar 8-12 jam, tergantung kondisi saat di perjalanan.
Suasana jalanan menuju ke sana masih seperti dulu, melewati
beberapa kabupaten dan kecamatan. Setelah masuk ke daerah Kabupaten Tanah
Bumbu, kita akan disambut dengan barisan pohon karet dan sawit di kiri dan
kanan jalan raya.
Ketika sampai di Kabupaten Kotabaru, tidak ada perubahan
yang berarti, jalanan masih saja gelap gulita. Rumah saya berjarak sekitar 40km
dari pelabuhan, sepanjang perjalanan lebih kurang 40km tersebut kita seolah
akan melewati rimba yang cukup lebat.
Hutan yang lebat di kiri dan kanan jalan, serta tidak ada
penerangan. Hal tersebut membuat suasana semakin mencekam di sepanjang
perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah, alangkah terkejutnya saya dengan
sebuah bangunan yang berdiri hampir tepat berada di depan rumah.
Sebuah bangunan yang hampir selalu kita temui di semua daerah
di Indonesia. Sebuah tempat yang membuat mati usaha warungan masyarakat asli.
Ya, Indomaret ada di seberang rumah saya.
Kita tidak akan mampu menolak perubahan, walau bagaimanapun
caranya. Semua yang ada dan pernah tumbuh di masa lalu, haruslah berganti
sesuai dengan perkembangan zaman. Kehadiran Indomaret di depan rumah, menjadi
salah satunya.
Saya rasa cukup banyak hal positif dengan kehadiran
Indomaret. Selain memudahkan warga sekitar untuk berbelanja, juga membuat
terang sekitar jalan yang sebelumnya lumayan gelap gulita.
Sinaran lampu neon yang keluar dari bangunan tersebut cukup
menarik perhatian, tidak sedikit mobil dan motor dari arah luar kota yang
berhenti di tempat tersebut.
Saya kira cukuplah intermezzo di atas menggambarkan kepulangan
saya ke kampung halaman. Saya ingin bercerita sedikit tentang apa yang tidak
berubah dengan tanah kelahiran saya tersebut.
Jalanan Pegunungan
Satu hal yang menjadi ciri khas dari daerah asal saya, yaitu
pegunungan. Terkenal dengan sebutan “Bamega” yang berarti gunung di atas awan.
Perjalanan melewati pegunungan baru terasa ketika kita sudah keluar dari
pelabuhan, saat itulah petualangan dimulai. Kamu penasaran? Yuk berkunjung.
Jalanan Gelap Gulita Sepanjang 40KM
Jika kamu baru sampai di seberang pelabuhan sekitar habis
magrib, kemungkinan besar kamu harus siap-siap dengan penerangan yang cukup di
kendaraan yang kamu naiki. Di sepanjang hampir 40KM tersebut merupakan area
yang cukup rawan. Selain bentuk geografis yang naik turun, salah satu tantangan
terberatnya ialah tidak adanya lampu jalan yang menyala sepanjang 40KM. Tidak
heran jika daerah tersebut rawan terjadi kecelakaan.
Laut Biru
Kotabaru kerap menjadi destinasi wisata, baik itu pelancong
yang berasal dari Banjarmasin maupun luar Banjarmasin. Walaupun terkenal dengan
sebuat “Gunung Bamega”, namun yang menjadi salah satu penarik perhatiannya
ialah pantai dan laut. Pantai dan laut tersebut dapat kita temukan di sepanjang
jalan beberapa desa yang ada di kotabaru.
Keindahannya tidak kalah jauh dengan beberapa pantai yang
ada di Indonesia, sulitnya akses menjadi penentu kenapa air laut di Kotabaru
masih terjaga.
Pembangunan di daerah kotabaru memang bisa dikatakan sangat
lamban, bahkan jika kita membandingkan dengan kabupaten tetangganya yaitu Tanah
Bumbu, mungkin saja Kotabaru tertinggal 10 tahun. Hal ini disebabkan karena
letak geografis, sehingga menyulitkan akses dari luar untuk masuk, ataupun bisa
juga karena faktor lain. Namun saya bersyukur tentang hal tersebut. Kenapa
begitu?
Dikarenakan lambannya pembangunan, tidak banyak polusi yang
dihasilkan. Hal tersebut berpengaruh terhadap ekosistem alam yang ada di
Kotabaru. Hasilnya, air laut masih terlihat bersih, bahkan hutan dan pegunungan
masih banyak yang rimbun dan memproduksi udara segar. Walaupun beberapa tahun
terakhir batu-batu yang ada di pegunungan di Kotabaru mulai dikeruk, entah mau
dibuat apa nantinya. Saya harap pemerintah daerah setempat perhatian tentang
hal tersebut.
Kendaraan Berkecepatan Tinggi
Bentuk geografis membuat jalan-jalan di kotabaru, khususnya
jalan dari pelabuhan ke pusat kota memiliki banyak turunan dan tanjakan yang
cukup curam. Maka dari itu, jika kamu mengendarai kendaraan dengan kecepatan
yang normal bukan tidak mungkin kendaraanmu tidak sanggup dengan tanjakan yang
ada.
Bahkan baru-baru ini ada kejadian truk tidak kuat nanjak dan
berjalan mundur yang mengakibatkan kecelakaan. Jadi, kendaraan yang
berkecepatan tinggi di Kotabaru bukan semata-mata ingin kebut-kebutan saja.
Namun bentuk geografis daerah tersebut memang menuntut hal sedemikian rupa.
Dari empat hal yang sudah saya ceritakan di atas, sebenarnya masih banyak lagi yang tidak berubah dari Kabupaten Kotabaru. Namun, saya rasa 4 hal di atas merupakan perwakilan dari semuanya. O, iya ada satu hal mencolok yang berbeda sejak beberapa tahun lalu saya melewati jalan dari pelabuhan ke rumah. Yaitu munculnya 2 buah SPBU tambahan di jalan tersebut. Konon kabarnya SPBU tersebut milik bupati yang dulu menjabat, dan sekarang terpilih lagi. WOW!!!
Pulang Kampung ke Kotabaru, Ada Hal yang Tidak Pernah Berubah
elfaqar - Selasa, 4 Mei 2021. Saya mulai belajar sedikit tentang bagaimana investasi di beberapa komoditas. Baik itu reksadana pasar uang, obligasi, ataupun cryptocurrency.
Walau dengan modal pas-pasan saya mencoba mencari peruntungan di bidang yang tidak pernah saya tekuni sebelumnya, trading dan investasi. Saya mungkin akan lebih fokus kepada cryptocurrency, karena hampir 70% aset yang saya miliki saya curahkan di sana.
Pada dasarnya, saya benar-benar menerjuni bidang trading dan investasi kripto sejak awal bulan April 2021 yang lalu. Saya mencoba mendepositkan beberapa nominal uang, dan membeli beberapa koin kripto yang cukup potensial.
Hasilnya sungguh mengagumkan. Belum genap 30 hari, saya sudah mencapai keuntungan 50% dari deposit yang saya masukkan.
"Ini mungkin cara saya mengubah nasib", pikir saya dalam hati.
Saya pun ingin seperti orang lain yang memiliki rumah sendiri, hidup damai dengan keluarganya. Bahkan jika bisa, saya ingin pensiun di usia muda. Mengakhiri sisa hidup dengan menjalankan hobi, sepertinya menyenangkan.
Sejak beberapa minggu yang lalu saya mulai aktif memantau layar gadget, walaupun tidak melakukan apa-apa saya hanya ingin tahu bagaimana perkembangan pasar kripto.
Selentingan-selentingan negatif mulai muncul, mengatakan bahwa usaha yang sedang saya kerjakan itu tergolong haram. Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk menyanggahnya, karena ilmu agama saya yang terlalu cetek.
Saya hanya berpikir, jika sesuatu itu tidak merugikan orang lain, maka tidak apa-apa.
Orang hanya berani berpendapat kepada orang yang berada di bawahnya. Itu sudah lumrah dan wajar, karena mungkin ia merasa memiliki kekuasaan.
Kenapa kau tidak koar-koar tentang haramnya harta pejabat dari hasil korupsi, atau mungkin tentang semua kementerian yang pernah menjadi objek korupsi oleh menterinya masing-masing.



















