elfaqar - Satu bulan pun belum ada kita melewati tahun 2021. Namun, berbagai ujian dan musibah datang silih berganti. Mulai dari jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, banjir di Kalimantan Selatan, gempa di Sulawesi Barat dan meninggalnya seorang ulama karismatik, Syekh Ali Jaber.
Belum cukup rasanya negeri ini diuji dengan kehadiran virus laknat dari Cina. Kita harus bisa lebih lagi berlapang dada menghadapi semua ini.
Banjir di Kalimantan Selatan kali ini, merupakan banjir
terbesar yang pernah dialami oleh warga banua. Pada dasarnya, banjir merupakan
langganan setiap tahun. Oleh karena itu, tidak heran jika rumah-rumah yang
dimiliki orang Banjar dibuat lebih tinggi.
Namun, banjir di Kalimantan Selatan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Beberapa daerah ada yang benar-benar "terendam" oleh air. Selain meluapnya air di bendungan. Curah hujan yang tinggi juga menjadi salah satu faktor penyebabnya.
Menurut saya harus lebih kita perhatikan ialah soal lingkungan.
Etika dalam lingkungan perlu dijaga. Daerah resapan air jangan sampai hilang.
Bayangkan jika tidak ada lagi pohon dan hutan, tidak ada lagi yang mampu
menyerap air dari tanah.
Pada akhirnya, bencana banjir ini adalah ulah dan akibat dari kelalaian kita sendiri sebagai manusia. Kita mungkin lupa untuk membuang sampah pada tempatnya. Lebih praktis membuang sampah di sungai. Atau mungkin kita lupa, ketika mengeruk kekayaan alam tanpa merusak lingkungan.
Bencana banjir di Kalimantan Selatan rupanya cukup
mengguncang Indonesia. Pasalnya, trending di twitter pun ikut menyerukan
tentang banjir di Kalimantan Selatan dengan hashtag #PrayforKalSel.
Sementara air di dapur semakin meninggi, saya masih mengetik tulisan ini. Saya cek facebook, isinya pun begitu. Di hampir semua daerah yang terdampak banjir di Kalimantan Selatan, meminta pertolongan. Terlebih bagi mereka yang berada di daerah pelosok.
Berikut beberapa status orang-orang yang meminta pertolongan
dan status lainnya terkait banjir yang sedang terjadi.
Sudah saya translasikan ke bahasa Indonesia.
“baterai saya sudah mau habis, tolong timsar datang kesini.
Kami dari tadi pagi tidak ada makan nasi, kami terjebak banjir,” kata sebuah
akun
“Inilah hasil dari perbuatan segelintir orang-orang yang
tamak/serakah, maka jutaan warga banua yang menanggung akibatnya,” kata akun
Dany Aw.
“Minta doanya semoga keluarga saya di Barabai selamat
semuanya, dilindungi dari banjir,” kata akun Idah
idah.
“Tolong bagi rekan-rekan untuk mengontrol
warga di Antasan Pasar Papan, Gg. Gotong Royong. Di dalam gang air masih dalam,
dan masih banyak orangnya. Bantuan baru sekali datang saat maghrib, banyak yang belum mengungsi,” tulis
akun Hena Celup di Story WA nya.
“Apakah ada bantuan? Di gudang Sari Murni
Muallimin banyak pengungsi butuh makan,” tulis akun Rahmat Ngambaw.
Masih banyak beberapa yang tidak bisa saya tuliskan di sini.
Berikut beberapa tangkapan layar yang berhasil saya himpun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar