About

Demonstrasi, Banjarmasin, dan Para Intelejensia

elfaqar - Beberapa waktu yang lalu, bertepatan datangnya Jokowi ke Banjarmasin, ada demo yang dilakukan oleh kawan-kawan mahasiswa di depan kantor DPRD Kalsel. Mereka ingin bertemu dengan Ketua DPRD Kalsel untuk menyampaikan aspirasinya. Sayangnya niat mereka kandas, karena saat itu kantor DPRD sedang sepi.


Kelompok demonstrasi yang mengaku perwakilan BEM se-Kalsel (padahal dominasi perguruan tinggi dari Banjarmasin) ini pun akhirnya hanya melakukan orasi dan aksi di tengah trotar jalan.


Tak hanya di Banjarmasin, hari itu di beberapa kota lainnya, mahasiswa serentak melakukan demonstrasi demi memperingati 7 tahun rezim Jokowi. Aksi terbesar di Jakarta Pusat.


Kembali ke Banjarmasin. Beberapa bulan terakhir, seringkali terjadi demo mahasiswa di Banjarmasin.


Saya senang dengan beberapa aksi mahasiswa, ini menunjukkan kepedulian para intelejensia terhadap isu-isu yang tengah berkembang di masa sekarang. Namun ada yang mengganjal. Apakah ini murni soal memperjuangkan kepentingan rakyat? Atau ada hal politis di baliknya? Hanya Tuhan dan korlap demonstrasi yang tahu soal itu.


Ramai sekali isu nasional dibawa ke daerah yang kemudian mengakibatkan gelombang demonstrasi cukup besar.


Sebagai calon penerus generasi, tidak ada salahnya untuk peduli terhadap beberapa isu nasional. Namun, alangkah baiknya jika aksi tersebut benar-benar murni dari hati nurani mereka sendiri, tanpa ada dompleng dari pihak manapun. Terlebih dari partai politik, yang kerap kali menyisipkan beberapa agenda mereka melalui organisasi ekstra kampus.


Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan kelihatan”


Peribahasa di atas cukuplah untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi hari-hari belakangan ini.


Ketika para intelejensia turun ke jalan menanggapi soal bobroknya pemerintahan Jokowi, mereka lupa bahwa kota tempat mereka tinggal juga memiliki pemimpin.


Semua kebijakan dan eksekusinya pada akhirnya bermuara kepada orang-orang yang berkuasa di lini bagian bawah. Mulai dari Ketua RT/RW, Lurah, Camat, Bupati/Walikota, hingga Gubernur.


Mahasiswa, sebagai kontrol sosial sebaiknya lebih peka terhadap beberapa permasalahan yang sedang terjadi di dekatnya.


Jika mahasiswa UI melakukan demo di depan istana kepresidenan, hal ini terlihat wajar. Kenapa? Ini terkait soal tempat. Namun, akan terlihat konyol ketika mahasiswa dari kampus yang ada di kota lain tiba-tiba ikutan demo di depan istana. Sedangkan, agenda demonstrasi saat itu hanya sekadar untuk memperingati lamanya rezim berkuasa.


Berbeda halnya saat demo tahun 1998, ketika itu suasana di berbagai daerah di Indonesia sudah tidak lagi kondusif. Oleh karenanya, mahasiswa dari berbagai kota pun berbondong-bondong pergi ke pusat Ibukota. Sebab, di situlah letak permasalahan utamanya (Soeharto berkuasa terlalu lama), di situlah kanker kekuasaan itu bercokol. Serta harus dicabut hingga ke akarnya. Sayangnya, hanya batangnya saja yang mampu ditebang.


Kini, zaman telah berubah. Saya rasa demonstrasi tak akan mampu lagi menggoyahkan kekuasaan. Tidakkah beberapa mahasiswa itu berpikir seperti ini?


Jika pun ingin melakukan demonstrasi, lebih baik untuk bisa mengangkat hal-hal yang konkret. Khususnya di daerah.


Tidakkah para intelejensia itu sadar bahwa ada yang tidak beres dengan kota ini (Banjarmasin)?

 

Banjarmasin, Kota Seribu Sungai

Tidak perlu muluk-muluk tentang permasalahan di Kalsel pada umumnya. Lihatlah Banjarmasin, kota yang dulu berjuluk “Seribu Sungai”, kata itu mulai terkikis substansinya. Mungkin di masa depan hanya akan menjadi kata legenda untuk anak cucu kita kelak, dan mereka akan bertanya kepada ayahnya, “mana sungainya?”


Fungsi sungai di Banjarmasin tidak sepenuhnya berjalan. Pembangunan yang terfokus kepada infrastruktur di darat, kini mengabaikan sungai. Kenyataannya, sungai di Banjarmasin oleh pemerintah kotanya hanya diperlakukan sebagai objek wisata belaka.


10 tahun yang lalu, saya mendambakan sungai di Banjarmasin bisa seperti sungai di Venezuela. Terjaga, asri, dan berfungsi. Ternyata itu cuma mimpi. Saya sadar para pejabat kota lebih sibuk membangun di darat ketimbang di sungai. Dinas terkait sepertinya hanya sibuk mengurusi yang ada di darat saja.


Tidak percaya? Lihatlah betapa butek dan kotornya sungai di Banjarmasin. Di sungai Banjarmasin kita akan dengan mudah mendapatkan sampah, ketimbang ikan untuk dipancing.


Ketika sungai sudah tidak terjaga, maka ekosistem di dalamnya pun perlahan akan mulai punah. Lihatlah apa yang terjadi pada hutan di Kalimantan, khususnya Kalsel. Penebangan hutan (legal dan ilegal) sebagai tempat industri, pemukiman, dan penambangan membuat Bekantan kehilangan habitatnya. Sungai juga begitu.


Bukan tidak mungkin beberapa puluh tahun ke depan (jika tidak ada gebrakan dari penguasa di daerah) beberapa hewan di air akan mengalami kepunahan.


Jika ada yang mengatakan bahwa transportasi sungai sudah ketinggalan zaman. Ini hanya alasan mereka yang malas berpikir untuk menjalankan fungsi jabatannya.

Demonstrasi, Banjarmasin, dan Para Intelejensia

Fenomena Itu Bernama Pamer Sedekah


elfaqar - Senin, 25 Oktober 2021. Saya agak gusar belakangan ini, melihat beberapa postingan di dunia maya yang semakin brutal. Pamer harta benda, kemudian memberikannya kepada orang-orang miskin.


Sebagian dari kalian mungkin berpikir bahwa saya hanya iri saja, karena tidak mampu melakukan hal serupa. Seperti itu mungkin ada di dalam lubuk pikiran terdalam, walau hanya sepersekian persen.


Entah siapa yang memulainya dan kapan ini bermula, orang-orang kaya mulai berderma dan merekam hal tersebut di gadget mereka kemudian menyebarkannya di media sosial.


Awalnya saya senang melihat perilaku seperti itu, namun lama kelamaan saya mulai heran. Kemudian muncul beragam pertanyaan di otak kecil ini.


Haruskah memerkan diri saat berderma, bersedakah, dan membantu orang-orang miskin?


Jika cerita Zorro dan Robin Hood itu nyata, apakah mereka akan bersikap sama seperti itu?


Jika dunia modern dan gadget canggih sudah ada di masa sahabat Nabi, apa mungkin Umar bin Khattab akan melakukan hal yang sama?


Kurangkah Raqib sebagai pencatat amal kebajikan dan Tuhan sebagai saksinya?


Fenomena ini masih berlangsung hingga sekarang, merambah ke dunia artis dan influencer khususnya di Ibukota. Sebut saja Baim Wong, Atta Halilintar dan sederet nama lainnya yang saya lupa namanya.


Tidak ada yang salah dari perbuatan baik mereka kepada orang yang kurang mampu, namun lama kelamaan fenomena pamer sedekah ini membuat saya muak.


Begitu sangat inginkah mereka memiliki penonton yang banyak di channel youtube nya? Sampai-sampai harus memamerkan segalanya di khalayak ramai.


Begitu sulitkah menyembunyikan perbuatan baik dari tangan kiri?


Entahlah saya tidak begitu mengerti pikiran orang-orang kaya.

Fenomena Itu Bernama Pamer Sedekah

Vaksin Itu Wajib, Tapi Mati Tanggung Sendiri


elfaqar - Beberapa hari yang lalu di kantor tempat saya bekerja, dimulai pendataan bagi mereka yang belum mendapatkan vaksin Covid-19. Katanya sih wajib.


Mau tidak mau saya dan keluarga pun ikut, karena tidak ingin bermasalah terkait administrasi di kemudian hari. Menurut kabar yang beredar, bahwa bukti vaksin ini nantinya akan dimasukkan ke dalam sistem administrasi.


Namun, saya agak merinding ketika membaca beberapa berita soal orang-orang yang mati setelah mendapatkan vaksin. Saya pun bertanya, terkait jika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi setelah vaksin.


S: Saya

P: Pendata


-------------------------------------------------------

S: Vaksin ini wajib bu?

P: Iya, istrimu sudah vaksin?

S: Belum  

P: Kalau gitu ikutkan saja di sini

S: Iya (walaupun dengan agak berat hati), kalau misalkan terjadi sesuatu setelah vaksin siapa yang akan tanggung jawab bu?

P: Kamu punya penyakit bawaan?

S: Tidak tahu

P: Coba periksa

S: (dalam hati berfikir) boro2 periksa penyakit, biasanya kalau sakit Cuma kerokan atau minum obat di warung.

 -------------------------------------------------------


Jika pun nanti kita mati setelah vaksin, dan orang yang divaksi disalahkan, ingatlah hal ini.


Tidak semua orang taraf hidupnya sama, tidak semua orang pergi ke dokter jika sakit. Kami golongan menengah ke bawah terbiasa dengan pengobatan tradisional dan beli obat di warung.


Terkadang apapun penyakitnya, obatnya tetap itu-itu saja.


Berbeda dengan mereka kalangan atas, yang jika bersin dan menggigil sedikit saja langsung pergi periksa ke dokter.


Kan sekarang sudah ada BPJS Kesehatan? Jadi bisa gratis.


Saya katakan, bahwa realita tidak seindah ekspektasi.

 

Jadi, jika kita mati setelah vaksin siapa yang nanggung? Saya kira, kita akan tanggung sendiri kematian itu.

Vaksin Itu Wajib, Tapi Mati Tanggung Sendiri

Sebelum Ingatan Ini Menghilang


elfaqar - Sebelum ingatan saya hilang tentang ini, saya ingin bercerita di sini jika suatu saat saya lupa tentang semua.


Kejadian ini bermula ketika saya masih kelas 2 atau 3 SD (agak lupa).


Hari Sabtu, sekolah pulang lebih awal. Seperti biasa, hari ini mengenakan seragam pramuka. Jam menunjukkan sekitar pukul 11 WIB, saatnya pulang.


Saya pun keluar gang dan menunggu jemputan ayah, karena kebetulan ayah pulang kerja lebih awal hari Sabtu ini.


Saya duduk bersandar di sebuah dipan. Berada tepat di samping pohon jambu biji. Tapi di bawahnya ada sungai, namun saat itu air sungai sedang surut, jadi terlihat seperti becek-becek hitam saja.


Saat sedang asyik duduk menunggu ayah, saya lihat ada sebuah ranting yang bentuknya mirip ketapel. Pikir saya saat itu, lumayan buat main di rumah.


Saya putuskan untuk menjangkau ranting tersebut.


Saat itu posisi saya sedang berpegangan di sandaran dipan. Entah nahas atau apa, tiba-tiba ada bunyi ‘krek’ dari bawah dan seketika penyangga dipan yang di bawah itu pun patah.


Saya tercebur ke dalam air hitam becek. Kaki saya terbenam di dalamnya, secara reflek saya berteriak, “tolonggg”


Untunglah di sekitar situ ada ojek sedang mangkal, saya pun di tarik ke atas. Cepat-cepat saya bersihkan diri, celana pendek dan sepatu saya hitam karena lumpur.


Sekitar 15 menit kemudian ayah datang, tanpa banyak omong saya langsung naik ke motornya.


Sepanjang perjalanan ayah tidak tahu, bahwa saya habis kecebur lumpur.


Tapi sesampainya di rumah, ia curiga dengan bau comberan. Terlebih di bagian sepatu masih terlihat hitam akibat lumpur. Saat itu juga saya kena pukul.


“pantas saja sepanjang jalan ada bau tai,” ucapnya.

Sebelum Ingatan Ini Menghilang

Pandemi di Bumi Lambung Mangkurat


elfaqar - Hari ini Kamis, 5 Agustus 2021. Sudah sejak beberapa hari yang lalu bumi lambung mangkurat selalu basah tanahnya oleh hujan. Namun, frekuensinya tidak pasti. terkadang siang, sore, ataupun malam.


Pandemi masih menyelimuti negeri yang saya cintai. Virus ini seperti teror yang selalu menghantui kehidupan kami sehari-hari. Orang-orang pun semakin hari semakin paranoid satu sama lain.


Batuk sedikit, bersin sedikit, langsung dikira memiliki gejala.


Pemandangan yang dulu hanya saya lihat setiap ada festival jejepangan, kini dapat kita temui sehari-hari. Orang-orang memakai masker kemana-mana, dan dalam hati saya berkata,


“semua akan wibu pada waktunya”


Bagi saya seorang perokok, pasti selalu mengalami batuk sesekali.


Namun batuk tidak sebebas dulu, tidak cukup hanya dengan menutup mulut saat batuk.


Kini, ketika suara batuk keluar, setiap pasang mata selalu tertuju pada orang yang batuk tersebut. Bahkan untuk batuk pun kita tidak memiliki kebebasan.


Saya bukannya tidak percaya kepada virus yang sekarang sedang menjadi pandemi, saya hanya tidak percaya kepada mereka otak-otak busuk yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan orang-orang yang sedang menderita.


Dugaan buruk saya terbukti ketika di beberapa daerah di Indonesia terdapat oknum petugas medis yang sengaja memalsukan dokumen pasiennya. Semua demi uang.


Itu baru bagian bawah saja.


Di kalangan atas lebih brengsek lagi, di tengah kericuhan seperti ini masih ada yang sempat-sempatnya mengkorupsi dana bantuan sosial. Yang lebih parahnya lagi, itu dilakukan oleh seorang menteri.


Negeri ini kelewat edan.

Pandemi di Bumi Lambung Mangkurat

elfaqar -  Beberapa waktu yang lalu mencuat di media soal seorang mahasiswi yang berurusan dengan pihak berwajib karena diduga terpapar radikalisme. Pasalnya ia mendebat soal pancasila, serta mempertanyakan eksistensi pancasila, terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini.

Pancasila, Pandemi dan Mahasiswi yang Terpapar Radikalisme


Kenapa hal ini bisa terjadi?


Apakah pemerintah dan aparat terlalu berlebihan menanggapi hal tersebut?


Mari kita kupas secara perlahan.


Dulu sewaktu masih kuliah, saya masih ingat pernah melihat seorang kawan mendebat pancasila di sebuah ruang diskusi.


Kebetulan saat itu mata kuliah yang diajarkan adalah Kewarganegaraan. Tentu saja yang menjadi bahan perdebatan adalah soal pancasila.


Menurutnya pancasila tidak relevan dengan kehidupan bernegara yang sedang terjadi. Terjadinya ketimpangan sosial menunjukkan, bahwa pengamalan sila ke empat hanya sekadar simbol belaka.


Apakah mengkritisi hal tersebut dianggap sebagai suatu hal yang radikal?


Ya, kala itu berpikir secara radikal sangat dibutuhkan di ruang diskusi.


Namun, setelah selesai diskusi tidak ada terjadi apa-apa, apalagi berurusan dengan pihak berwenang.


Apa poin yang ingin saya sampaikan?


Kita sekarang hidup di zaman era keterbukaan informasi, dimana semua informasi sangat mudah didapat dan disampaikan melalui media internet.


Terlebih dengan adanya UU ITE di Indonesia, yang mana peraturan tersebut dapat menjadi buah simalakama. Inilah yang menyebabkan seorang mahasiswi ULM berurusan dengan pihak berwenang.


Berbeda dengan belasan tahun yang lalu, dimana informasi hanya terkungkung di dalam suatu wadah, yaitu media massa (koran, radio, televisi, dll).


Di masa itu, untuk menyebarkan suatu informasi kita harus memiliki media yang cukup berpengaruh di dalam khalayak ramai. Setidaknya ada organisasi ataupun lembaga sebagai tempat kita berlindung jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan.


Sekarang, tidak ada dinding pemisah antara khalayak ramai dan pendapat yang kita keluarkan. Setiap dari kita dengan mudahnya menyalurkan pendapat tentang segala hal. Namun sayangnya, kita kadang kebablasan.


Kembali ke ruang diskusi belasan tahun yang lalu.


Ketika itu, substansial pembahasan hanya cukup sampai di kampus, tidak pernah bocor ke ruang publik. Lalu, berbicara tentang radikalisme. Saya rasa dulu lebih radikal ketimbang sekarang, yang berbeda hanya ruangnya saja.


Bahkan saya sendiri secara pribadi pernah memprotes kebijakan kampus yang mewajibkan mahasiswa untuk pergi KKN ke Bali, karena saya tahu ketika itu tidak semua orang yang berkuliah itu kaya. Ada yang hanya mengandalkan dari uang beasiswa, ada pula yang hanya mengandalkan dari hasil penjualan tanah ayah dan ibunya di kampung.


Oleh karena itu, saya memilih untuk berpikir radikal. Saya luapkan protes ke dalam secarik kertas yang kemudian saya perbanyak dan ditempel di setiap belakang pintu WC. Hasil yang didapat? Saya mendapatkan sentimen yang cukup negatif dari beberapa orang dosen.


Kala itu, banyak pikiran radikal yang berkeliaran di kampus. Namun itu hanya sebatas di kampus.


Kasus mahasiswi yang sekarang sedang terjadi berbeda, ia berkoar di media yang seluruh dunia bisa melihatnya. Setiap kalimat yang dilontarkannya di dalam video tersebut menjadi amunisi yang terus menerus memborbardir pikiran mereka yang melihatnya.


Namun ia lupa, benteng pertahanannya cukup lemah. Pada akhirnya ia harus berurusan dengan hal yang di luar batas kemampuannya.


Di publik ia memang terlihat seperti seorang pahlawan yang sedang memperjuangkan kebenaran, namun seorang koboy pun akan lari terbirit-birit jika menghadapi satu pleton pasukan tempur yang bersenjata lengkap. Taktik gerilya tidak akan mampu untuk melawannya.


Sebaiknya, mahasiswa lebih mampu mengontrol ‘keradikalannya’ dengan perhitungan yang cermat. Satu hal yang perlu diingat, kita hidup di zaman yang berbeda dimana arus informasi melaju dengan kencang seperti di jalan tol tanpa batas. Maka, bijaklah berkendara.

Pancasila, Pandemi dan Mahasiswi yang Terpapar Radikalisme

Pulang Kampung ke Kotabaru, Ada Hal yang Tidak Pernah Berubah

elfaqar - Setelah beberapa tahun tidak melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman, akhirnya saya dan keluarga memutuskan untuk pulang kampung.


Tepatnya 30 Mei lalu, kami sekeluarga berangkat ke tanah kelahiran saya, Kotabaru, pulau tersendiri di ujung pulau Kalimantan sebelah Selatan. 


Perjalanan memakan waktu sekitar 6 hingga 8 jam ke Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu. Kemudian dilanjutkan perjalanan menyeberang menggunakan kapal feri sekitar 30-45 menit. Lanjut lagi perjalanan darat dari pelabuhan ke destinasi tujuan sekitar 1-2 jam. Jadi total perjalan memakan waktu sekitar 8-12 jam, tergantung kondisi saat di perjalanan.


Suasana jalanan menuju ke sana masih seperti dulu, melewati beberapa kabupaten dan kecamatan. Setelah masuk ke daerah Kabupaten Tanah Bumbu, kita akan disambut dengan barisan pohon karet dan sawit di kiri dan kanan jalan raya.


Ketika sampai di Kabupaten Kotabaru, tidak ada perubahan yang berarti, jalanan masih saja gelap gulita. Rumah saya berjarak sekitar 40km dari pelabuhan, sepanjang perjalanan lebih kurang 40km tersebut kita seolah akan melewati rimba yang cukup lebat.


Hutan yang lebat di kiri dan kanan jalan, serta tidak ada penerangan. Hal tersebut membuat suasana semakin mencekam di sepanjang perjalanan pulang.


Sesampainya di rumah, alangkah terkejutnya saya dengan sebuah bangunan yang berdiri hampir tepat berada di depan rumah.


Sebuah bangunan yang hampir selalu kita temui di semua daerah di Indonesia. Sebuah tempat yang membuat mati usaha warungan masyarakat asli. Ya, Indomaret ada di seberang rumah saya.


Kita tidak akan mampu menolak perubahan, walau bagaimanapun caranya. Semua yang ada dan pernah tumbuh di masa lalu, haruslah berganti sesuai dengan perkembangan zaman. Kehadiran Indomaret di depan rumah, menjadi salah satunya.


Saya rasa cukup banyak hal positif dengan kehadiran Indomaret. Selain memudahkan warga sekitar untuk berbelanja, juga membuat terang sekitar jalan yang sebelumnya lumayan gelap gulita.


Sinaran lampu neon yang keluar dari bangunan tersebut cukup menarik perhatian, tidak sedikit mobil dan motor dari arah luar kota yang berhenti di tempat tersebut.


Saya kira cukuplah intermezzo di atas menggambarkan kepulangan saya ke kampung halaman. Saya ingin bercerita sedikit tentang apa yang tidak berubah dengan tanah kelahiran saya tersebut.

 


Jalanan Pegunungan

Satu hal yang menjadi ciri khas dari daerah asal saya, yaitu pegunungan. Terkenal dengan sebutan “Bamega” yang berarti gunung di atas awan. Perjalanan melewati pegunungan baru terasa ketika kita sudah keluar dari pelabuhan, saat itulah petualangan dimulai. Kamu penasaran? Yuk berkunjung.


 

Jalanan Gelap Gulita Sepanjang  40KM

Jika kamu baru sampai di seberang pelabuhan sekitar habis magrib, kemungkinan besar kamu harus siap-siap dengan penerangan yang cukup di kendaraan yang kamu naiki. Di sepanjang hampir 40KM tersebut merupakan area yang cukup rawan. Selain bentuk geografis yang naik turun, salah satu tantangan terberatnya ialah tidak adanya lampu jalan yang menyala sepanjang 40KM. Tidak heran jika daerah tersebut rawan terjadi kecelakaan.

 

Laut Biru

Kotabaru kerap menjadi destinasi wisata, baik itu pelancong yang berasal dari Banjarmasin maupun luar Banjarmasin. Walaupun terkenal dengan sebuat “Gunung Bamega”, namun yang menjadi salah satu penarik perhatiannya ialah pantai dan laut. Pantai dan laut tersebut dapat kita temukan di sepanjang jalan beberapa desa yang ada di kotabaru.


Keindahannya tidak kalah jauh dengan beberapa pantai yang ada di Indonesia, sulitnya akses menjadi penentu kenapa air laut di Kotabaru masih terjaga.


laut biru kotabaru


Pembangunan di daerah kotabaru memang bisa dikatakan sangat lamban, bahkan jika kita membandingkan dengan kabupaten tetangganya yaitu Tanah Bumbu, mungkin saja Kotabaru tertinggal 10 tahun. Hal ini disebabkan karena letak geografis, sehingga menyulitkan akses dari luar untuk masuk, ataupun bisa juga karena faktor lain. Namun saya bersyukur tentang hal tersebut. Kenapa begitu?


Dikarenakan lambannya pembangunan, tidak banyak polusi yang dihasilkan. Hal tersebut berpengaruh terhadap ekosistem alam yang ada di Kotabaru. Hasilnya, air laut masih terlihat bersih, bahkan hutan dan pegunungan masih banyak yang rimbun dan memproduksi udara segar. Walaupun beberapa tahun terakhir batu-batu yang ada di pegunungan di Kotabaru mulai dikeruk, entah mau dibuat apa nantinya. Saya harap pemerintah daerah setempat perhatian tentang hal tersebut.

 

Kendaraan Berkecepatan Tinggi

Bentuk geografis membuat jalan-jalan di kotabaru, khususnya jalan dari pelabuhan ke pusat kota memiliki banyak turunan dan tanjakan yang cukup curam. Maka dari itu, jika kamu mengendarai kendaraan dengan kecepatan yang normal bukan tidak mungkin kendaraanmu tidak sanggup dengan tanjakan yang ada.


Bahkan baru-baru ini ada kejadian truk tidak kuat nanjak dan berjalan mundur yang mengakibatkan kecelakaan. Jadi, kendaraan yang berkecepatan tinggi di Kotabaru bukan semata-mata ingin kebut-kebutan saja. Namun bentuk geografis daerah tersebut memang menuntut hal sedemikian rupa.

 

Dari empat hal yang sudah saya ceritakan di atas, sebenarnya masih banyak lagi yang tidak berubah dari Kabupaten Kotabaru. Namun, saya rasa 4 hal di atas merupakan perwakilan dari semuanya. O, iya ada satu hal mencolok yang berbeda sejak beberapa tahun lalu saya melewati jalan dari pelabuhan ke rumah. Yaitu munculnya 2 buah SPBU tambahan di jalan tersebut. Konon kabarnya SPBU tersebut milik bupati yang dulu menjabat, dan sekarang terpilih lagi. WOW!!!

Pulang Kampung ke Kotabaru, Ada Hal yang Tidak Pernah Berubah

apakah salah


Apakah Salah?

Karya: Zulfikar (Banjarmasin05 Mei 2021)


Apakah salah?

Jika aku ingin hidup seperti kamu

Bercanda dengan waktu

Menikmati senja di kala sendu


Apakah salah?

Jika asa-ku sedikit meninggi

Bertarung di dalam mimpi


Apakah salah?

Jika aku ingin mengubah takdir

Keluar dari jurang yang penuh satir


Katakan kepadaku, bagaimana cara yang benar

Untuk bisa hidup lebih baik, tanpa harus menjadi tenar

Tersenyum menghadapi ingar-bingar

Apakah Salah? - Puisi