About

Bagaimana Kinday Lahir Kembali

Keganjilan

Pesimis terhadap kehidupan

Peraturan yang Tak Jelas


elfaqar.blogspot.com - Riuh gemuruh di sana, di dalam kelas yang semakin pengap. Selang satu jam, setelah jam 2 siang yang seharusnya ada mata kuliah. Panas semakin menyengat, otak pun semakin tidak beraturan berpikir. Lama sekali rasanya menunggu dosen. Dasar dosen tidak tahu peraturan.

Berkaca sekilas dari narasi di atas, muncul satu pertanyaan besar di otak saya yang sedikit buntu. 

Apakah sebenarnya ada peraturan yang mengatur perkuliahan di program studi (prodi) pendidikan bahasa Inggris? 

Kalau pun ada, apakah sudah dijalankan sebagaimana mestinya? 

Peraturan yang dimaksud adalah aturan bagi dosen, mahasiswa maupun staf kepegawaian yang ada di prodi. 

Apakah ada konsekuensi apabila terjadi pelanggaran? 

Terus terang apabila dilihat secara kasat mata, di dalam prodi bahasa Inggris masih belum ada peraturan jelas yang mengatur perkuliahan walaupun katanya 'ada'. Masih saja ada segelintir dosen yang dengan 'seenaknya' keluar masuk kelas. Mengajar atau pun tidak, hanya Tuhan dan mahasiswa yang tahu. 

Para intelektual muda ini pasrah dan malah bersuka cita terhadap keadaan tersebut. Ironi yang terjadi ialah ketika ada mahasiswa yang tidak masuk di dalam perkuliahan, maka berbagai aturan dan tetek bengek yang tak jelas pun berlaku. 

Contohnya, seperti mahasiswa yang tidak dapat mengikuti Ujian Tengah Semester atau pun langsung berakibat kepada nilai si mahasiswa yang merosot hanya. Semua itu gara-gara peraturan yang tidak jelas.

Walau hal ini sudah diatur di kontrak kuliah pada saat hari pertama kuliah. Namun, banyak dosen yang mengabaikan hal tersebut (hanya beberapa dosen yang menerapkan kontrak kuliah). Permasalahan ini menjadi polemik tersendiri bagi program studi yang bersangkutan.

Selain itu ada pula permasalahan mengenai salah seorang dosen yang mengajar di prodi. Dosen tersebut benar-benar keras kepala dan di mata dosen tersebut mahasiswa pasti selalu salah. 

Pernah suatu waktu seorang mahasiswi maju persentasi di depan kelas. Dosen tersebut habis-habisan mengganyang pikiran si mahasiswi itu. Pertanyaan yang sebenarnya sudah dijawab selalu saja diulang-ulang. 

Sampai pada akhirnya mahasiswi itu menyerah dan pasrah. Mau diberi nilai berapa saja, terserah katanya. Saya kasihan melihatnya. Ironi yang pahit bila dikecap terlalu lama. Banyak suara-suara di belakang yang tak enak didengar mengenai dosen tersebut, tapi begitulah adanya.

Tulisan ini hanya segelintir celotehan kecil yang tak bermakna. Namun, bila tidak diresapi dengan akal pikiran yang cukup luas, dapat menyulut emosi yang besar. 

Entahlah ini menjadi kritik atau masukan atau pun saran. Satu hal yang pasti dan harus dipastikan, bahwa peraturan mengenai perkuliahan serta hal-hal lain harus benar-benar ada. Serta tidak sebatas kontrak kuliah antara mahasiswa dan dosen. Peraturan tidak hanya sebagai simbol belaka layaknya lambang burung garuda yang berisikan pancasila di tengahnya. 
 
Pada hakikatnya hal seperti ini tak pantas diungkap ke permukaan, namun apalah arti sebuah media tanpa memberi kebenaran kepada khalayak. 

Kita tak bisa menunggu terus tanpa berbuat sesuatu yang berarti. Jangan sampai apa yang dikatakan Soe Hok Gie dalam kutipan sajaknya yang berisikan bahwa “kebenaran itu hanya ada di langit” ternyata benar.

Peraturan yang Tak Jelas

Penyunatan Beasiswa Kotabaru

elfaqar.blogspot.com - Tidak bisa disangkal dan disanggah. Mahasiswa yang rata-rata orang perantauan dari daerahnya memerlukan tunjangan dana selain dari orang tua yang memang berkewajiban sebagai penyokong utama dalam hal materi. Salah satu tunjangan tersebut berasal dari bantuan yang bernama beasiswa. 

Adapun dalam hal ini saya akan bercerita sedikit mengenai beasiswa daerah. Khususnya di daerah Kabupaten Kotabaru. Pemberian beasiswa bagi mahasiswa yang berasal dari daerah Kotabaru ini sudah berlangsung sejak setahun yang lalu.

Setahun yang lalu pemberian beasiswa ini secara tunai dan diterima secara langsung tepatnya di Asrama Putri Kotabaru Panginangan Ratu. 

Saya juga kurang mengingat peristiwa tersebut, tapi yang pasti Bapak Bupati yang saat itu masih dijabat oleh Syahrani Matadja serta beberapa antek-anteknya mendatangi asrama dan acara serah terima beasiswa pun berlangsung. 

Ada Udang di Balik Batu

Bila kita mengulas dan menelaah lebih dalam, ternyata kedatangan bupati secara langsung memiliki niat tersendiri. Ketika itu sedang gencar-gencarnya kampanye calon gubernur. 

Tidak dapat disangkal, dia yang terhormat mengkampanyekan dirinya di hadapan para intelektual muda yang tampak tidak mengerti apa-apa (pada saat itu hanya tahu akan menerima uang beasiswa).

Ada yang Janggal

Tahun ini beasiswa Kotabaru diserahkan melalui rekening bank. Yang jadi persoalan ialah harus ada semacam surat pertanggungjawaban dari mahasiswa mengenai penggunaan uang tersebut dengan syarat alokasi dana harus berhubungan dengan pendidikan dan dengan kata lain uang yang digunakan selain untuk kepentingan itu harus diganti dan disetor ke kas daerah. 

Begitulah kira-kira isi dari poin-poin dalam pasal 1, 2, 3, dan 4 yang dibuat secara sepihak oleh Pemerintah Daerah Kotabaru. 

Kebanyakan dari peraturan tersebut merugikan pihak mahasiswa, karena biaya administrasi bank pun harus ditanggung oleh mahasiswa dan tidak boleh menggunakan uang beasiswa sebagai gantinya. 

Selain itu ada pula persyaratan yang aneh dari pihak Pemda. Yakni uang beasiswa yang bernilai Rp 1.750.000 dan Rp 2.500.000,00 harus disisakan Rp 200.000,00, artinya mahasiswa memang tidak menerima secara penuh hak pendidikannya dari pemerintah, malah dibebankan oleh peraturan yang ribet. 

Menjadi pertanyaan besar lagi, kemanakah uang yang berjumlah Rp 200.000,00 tersebut? Tidak jelas arahnya.

Tulisan ini hanya segelintir celotehan yang dapat saya sampaikan secara tidak sistematis dan juga berusaha menyuarakan aspirasi kawan-kawan lain yang merasakan keganjilan terhadap masalah ini. 

Materi yang bernama “uang” ini memang selalu menyulutkan masalah, karena ketika kita berbicara tentang pendanaan akan sangat sensitif sekali didengar di telinga setiap orang yang mendengarnya. Apalagi di telinga para penguasa yang selalu haus akan kekuasaan. 

Berbagai trik pun dijalankan untuk meraup sekelumit keuntungan. Wallahu’alam. Siapa yang tahu hati manusia.

Penyunatan Beasiswa Kotabaru, Tidak Ada Transparansi

pencarian


elfaqar.blogspot.com - Terus melakukan pencarian. Entahlah ketemu atau tidak. Satu hal yang pasti, pencarian tidak akan pernah berakhir.

Akhirnya final tes sudah selesai. Saya merasa pesinis dengan hasil yg akan didapat, mungkin saja karena sebagian tugas kuliah yang saya kerjakan dengan setengah hati. Namun, pada akhirnya saya hanya bisa merasakan gerimis. Menerpa tubuh saya yang kering dan melanjutkan aktifitas seperti biasa. 

Pencarian masih terus berlanjut, kawan.

Masih teringat jelas dalam angan, ketika saya berkumpul bersama orang-orang intelektual yang berlomba mencari nilai setinggi-tingginya. 

Saya heran kenapa orang begitu berambisi untuk medapatkan penghargaan dari para dosen. Saat tes lisan saya melihat kawan sebelah benar-benar menghafal apa yg ada di dalam buku. Textbook thinking saya pikir. 

Orang yang selalu menuruti apa yang dikatakan oleh buku. Hanya mampu menghafalnya tanpa memahami makna dari yang dihafalkannya. 

Saya tidak merasa kagum, bahkan sebaliknya. Dia dengan lancar melafalkan kalimat dalam bahasa inggris tanpa tahu maknanya. Saya merasa bahwa itu merupakan sesuatu yang bodoh. 

Si jenius Einsten pernah berkata “untuk apa kita menjawab pertanyaan yang jawabannya sudah ada di dalam buku”. Saya rasa dia ada benarnya. 

Tugas mahasiswa tidak hanya sekedar menghafal apa yang ada dan tertulis di dalam buku pelajarannya. Akan tetapi menerapkan ilmu lebih penting.
 
Menurut saya kurang baik, apabila kita terlalu terpaku kepada satu sumber. Kita haruslah bisa mengeksplorasi lebih lagi untuk mendapatkan makna yang lebih dalam dengan apa yang kita baca. Itulah menurut saya esensi yang begitu krusial saat kita membaca sebuah buku. 

Pencarian jati diri ini mungkin tidak akan perah berakhir sampai kapanpun. Bahkan sampai saya berada di alam barzah, yang katanyaa itu adalah masa dimana kita dikumpulkan dalam kehidupan setelah mati. Di sana lah keadilan yang benar-benar adil. Dijalankan oleh sang pencipta bumi dan langit.

Saya sempat menelusuri jejak pikiran saya sendiri ketika masih kuliah di semester 1. Saya pernah membaca sebuah e-book, bahwa sebenarnya bumi itu ada banyak. Setiap planet yang memiliki kehidupan disebut bumi, karena telah tertulis di dalam kita umat Islam. Air hanya diturunkan di bumi. Bukan di Mars, Pluto, ataupun Saturnus. 

Kenapa air? Karena air merupakan sumber penghidupan manusia. Saya rasa dimensi kehidupan tidak hanya ini saja. Bisa jadi kemunculan UFO merupakan bukti satu kehidupan yang lain di sisi bumi bagian lainnya.
 
Ada pula katanya dunia lain di bumi ini yg lebih canggih. Sesuai dengan apa yang saya dapat dari berbagai sumber, bahwa Kota Saranjana merupakan salah satu dunia lain di bumi ini. Semua yg ada di sana lebih modern dan lebih maju teknologinya. 

Pencarian memang tidak akan pernah berakhir, sampai kita menemukan kebenaran yang benar-benar nyata. Saya sendiri pun tidak tahu definisi sesungguhnya dari nyata itu apa. 

Ketika kita mengartikan nyata adalah sesuatu yang dapat dilihat dan diraba. Maka orang-orang religius akan menyangkal, karena Tuhan itu nyata. 

Pertarungan ideologi semacam ini sering menjadi pemicu perpecahan. Apalagi di bangsa Indonesia yang sangat multikultural. 

Saya berharap pencarian ini akan segera berakhir. Saya merasa letih tidak berdaya, ketika kenyataan menyatakan bahwa yang saya perjuangkan ini adalah sia-sia. Saya akan terus mencari walaupun nanti saat orang-orang telah 40 langkah meninggalkan dari peristirahatan saya yang kekal.

Pencarian

Membenci bumi