About

elfaqar - Malam ini hari Kamis, 29 Juli 2010, hawa begitu dingin karena kipas angin berada tepat di sebelah. Setengah hari saya berkeliling mencari rumah yang akan ditandai untuk dipasang ledeng. Tapi sayang, setelah beberapa jam berkeliling saya hanya dapat 6 buah rumah. 


seperti sapi





Saya mungkin terlalu bodoh untuk melakukan pekerjaan ini. Entah kenapa, setiap mengalami kegagalan saya selalu merasa putus asa. Saya merasa tak berguna lagi. Pikiran saya selalu buntu, terpaksa saya lepas pekerjaan itu. 

Akhir-akhir ini saya sering tak enak pikiran, mungkin karena terlalu banyak mata kuliah yang tak lulus. Lagi-lagi terfikir untuk segera menemui ajal, berharap segera dilempar ke jahanam. 

Saya pun tak bisa optimis bahwa bisa mencapai surga. Terlalu mahal harga surga bagi orang malas seperti saya, kadang pun muncul perasaan menyesal telah dilahirkan ke dunia ini. 

Semua pikiran bercampur aduk tak karuan, dosa saya segunung atau bahkan mungkin seluas dunia dan sedalam lautan. Mulai timbul keraguan apakah Tuhan itu benar-benar maha pengampun. 

Saya selalu berusaha pura-pura untuk bisa tegar. Menyenangkan orang-orang yang saya sayangi, tapi tampaknya selalu membuat mereka kecewa.

Saya bahkan sekarang lupa tujuan hidup di dunia ini, Tuhan selalu saja menguji hambanya setiap waktu, terus terang saya mulai lelah. Lelah mencari jati diri dan lelah membohongi diri sendiri. 

Semua kisah saya palsu, mungkin saya hanya imitasi yang tak sengaja jatuh ke bumi. Dia bilang saya selalu saja mengeluh, tapi sungguh saya telah lelah. 

Saya juga ingin seperti orang lain, sukses dan menjadi apa yang diinginkan orang tua. Dulu sebelum saya mengenal dunia ini, saya selalu bersemangat menjalani hidup. Tapi ketika semua kepalsuannya terbongkar, saya hanya seperti sapi yang dicocol hidungnya. Tak tahu harus berbuat apa.

Seperti Sapi

elfaqar.blogspot.com - Hari ini selasa 27 Juli 2010. Awalnya tak pernah saya menghiraukan tanggal ini. Walaupun ini tanggal saya dilahirkan. Karena memang tak pernah ada yang spesial di tanggal ini.

Terakhir kali, saya ingat ketika berumur 16 tahun. Orang tua saya membuatkan nasi kuning karena memang begitu tiap tahun. Saya memang orang yang suka makan. Tapi sejak naik kelas 2 SMA dan berpisah dengan orang tua. Saya tak pernah lagi menghiraukan tanggal yang menurut orang lain sakral. 

Pagi ini terkejut sekali sewaktu membuka facebook. Ternyata banyak yang mengucapkan selamat ulang tahun. Entah itu hanya iseng ataupun basa basi. Saya menghargai ucapan mereka, ucapan yang tak pernah saya dengarkan dari orang lain selama hampir 1 dasawarsa ini. 

Mungkin karena saya lebih senang hidup dalam kesendirian. Sehingga tak menyadari bahwa bergabungnya saya di jejaring sosial memiliki dampak yang cukup signifikan.

27 Juli 2010

21 tahun bukan umur yang cukup muda lagi bagi saya. Namun, apakah saya sudah benar mencapai tujuan saya yaitu menjadi makhluk yang cukup berguna bagi lingkungan. Saya tidak melihat ada esensi kehidupan yang lain selain berguna bagi orang lain. Maka, itulah yang menjadi tujuan saya. 

Bagi kalian yang melihat saya dari belakang, dan memberikan saya semangat. Saya akan menuliskan sebuah puisi, maaf agak terlalu norak. Tapi, puisi adalah jiwa saya dan saya hanya bisa menyampaikan gairah lewat sastra.

Saat mentari coba menyinari bumi
Aku terbangun menyambut sang pagi
Saat malam menyelimuti hari
Aku terlelap di dalam sunyi

Ketika hari itu tiba
Tak ada kata yang dapat terungkap
Selain penyesalan yang tiada tara
Walau semua hanyalah silap

Hari itu, tak ada lagi kesenangan
Hari itu, tak ada lagi keceriaan
Hari itu, tak ada lagi persahabatan
Yang ada hanya kehancuran, dan penciptaan dunia yang kekal

Aku manapaki sepi di dalam liangku
Dan kutemui satu cahaya yang kutahu
Kebenaran itu telah datang
Dan aku pun berusaha lapang

Semua yang hidup, pasti mengalami ajal
Begitu pula manusia yang penuh sesak berjejal
Tak akan ada lagi yang hidup, kecuali kebenaran dan peradilan yang kekal

27 Juli 2010

Aku Benci Terang

Aku Benci Terang

Karya: Zulfikar (22 Juli 2010) - elfaqar.blogspot.com



Bersama malam, aku terbang
Bersama rindu, aku melayang
Tiap waktu, tiap detik, aku terang
Namun semua lenyap, saat hitam menerjang

Kau lenyap, kau lenyap dan senyap
Aku terus menerawang di dalam gelap
Namun kau tetap lenyap
Cahaya itu membutakan, sehingga membuat aku gelap

Apa aku harus berlari menuju terang
Dan... menangkap kunang-kunang
Aku benci terang, karena telah melenyapkan engkau yang ku kenang
Aku benci terang, karena terang memisahkan perasaan sayang

Aku Benci Terang - Puisi




elfaqar - Minggu, 18 Juli 2010. Saya masih asik sibuk dengan sahabat karib. blogger.com, facebook.com, google.com, thehack3r.com. Saya rasa mereka lah teman-teman yang paling setia. 

Saya pernah berharap bisa memiliki sahabat yang benar-benar sahabat, tapi sayang mungkin khayalan itu hanya boleh saya simpan dalam otak yang selalu buntu. 

Mungkin karena saya terlalu bodoh untuk jadi manusia, bahkan sahabat dekat pun saya tak punya. Sedih ketika memikirkan hidup sendiri, tapi apalah daya mungkin takdir.

Saya masih bingung sendiri, pengen makan apa hari ini. Dari tadi pagi saya belum makan apa-apa. Uang tinggal seribu rupiah. Orang tua pun tak mungkin mengirimi aku uang di pertengahan bulan. Terpaksa minum air terus sepajang hari, hampir kembung perut saya dibuatnya. 

Badan saya rasanya agak lemas, rasanya jadi pengen mati aja. Mungkin tak ada yang tahu saya masuk neraka atau surga setelah mati. 

Tapi saya tahu, bahwa surga tak akan menerima orang seperti saya. Orang kotor, masa depan saya pun seakan tak mau memandang ke diri ini. Saya seperti menyesal dihidupkan ke dunia. 

Saya seakan telah mati, sebelum nyawa ini dicabut. Mungkin tak ada yang kecewa ketika saya menghembuskan nafas terakhir detik ini, atau mungkin banyak orang-orang yang akan tertawa riang ketika melihat kematian saya. 

Saya letih berjalan dengan mata yang buta, saya letih mencari sinar terang di padang cahaya. Saya ingin mati saja hari ini.

Saya Ingin Mati Hari Ini

Dosen Menyebalkan


elfaqar.blogspot.com - Menyebalkan. Hari ini Kamis, 15 Juli 2010. Jam menunjukkan pukul setengah lima sore.

Harinya hujan, cukup deras dan dingin yang menyelimuti saya. Kesal sekali saya hari ini. Dosen memang menyebalkan. 

Beberapa jam yang lalu saya pergi ke kampus, berniat mengumpulkan tugas yang seharusnya sejak kemarin ingin saya kumpulkan, namun kata dosen saya telat. Dosen itu tidak mau memberi saya waktu walau hanya 15 menit. 

Saya mendatangi ruang dosen itu, tapi apa yang saya dapati. Pintu terkunci rapat dan seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan. 

Sungguh menyebalkan, lagi-lagi saya harus menunda mengumpulkan tugas. Nanti pasti ujung-ujungnya saya yang disalahkan. 

Entah kenapa, dosen tidak bisa melihat masalah dari sisi yang berbeda. Perspektif yang dipakainya terlalu sempit, sehingga membuat mahasiswa yang diajarinya pun berpikir sempit. 

Dosen tidak mau mendengar, itu yang saya tahu. Sepanjang pengalaman saya menjadi mahasiswa selama 3 tahun dengan IP rata-rata 2. 

Huh...! rasa kesal itu tidak bisa hilang. Saya muak dengan dosen yang sok tahu, sok perhatian sama mahasiswa, dan sok bijaksana.

Saya memang bukan mahasiswa yang terlalu pintar dalam bidang akademis. Seandainya beliau bukan ketua program studi, tidak akan saya hiraukan kata-katanya. 

Mungkin mahasiswa yang tidak terlalu pintar seperti saya memang harus bersabar. Mungkin juga dua atau tiga tahun lagi saya baru bisa lulus. Mungkin.

Dosen Menyebalkan

Saya Benci Orang IPA



elfaqar - Huh! lagi-lagi saya sedang malas banget buat nulis. Mungkin karena susah mengakses internet. Hari ini Senin, 12 Juli 2010. 

Kabar gak begitu menyenangkan hinggap di telinga saya, katanya saya harus merevisi susunan proposal yang udah dikumpul beberapa minggu yang lalu. Terpaksa merevisi lagi. 

Tapi sepertinya hal tersebut memang kesalahan saya. Tugas yang seharusnya dikerjakan sebanyak 5 bab, saya ringkas menjadi 3 bab. hehehe....

Saya ini mungkin tergolong orang yang pemalas. Bahkan saking malasnya, saya perah dihukum oleh guru waktu SMP cuma gara-gara menyingkat kata-kata yang ada di dalam buku catatan. Walhasil dijemur seharian. kejam!

Hari ini cuaca panas banget, rasanya kepala saya mau meleleh. Entah kenapa dari dulu saya paling gak suka sama orang-orang yang berada di jurusan IPA. Saya berfikir mereka cuma orang-orang sombong, orang-orang yang hanya bangga dengan predikat mereka menjadi makhluk-makhluk yang berhubungan dengan IPA. 

Argh... saya benci. Namun pernah suatu waktu saya mengalahkan mereka dalam pelajaran komputer. Saat ujian saya mampu mendapatkan nilai 100. Mata mereka terbelalak ketika melihat pengumuman yang ada di mading sekolah. 

Sejak saat itu, mereka tak pernah lagi menganggap orang-orang dari kelas saya sebagai siswa-siswa bodoh yang tahunya hanya membuat onar. Karena memang kelas saya terkenal sebagai kelas anak-anak yang suka membuat gaduh. 

Keusilan saya yang lain, pernah membohongi seorang wakil kepala sekolah. Bahkan sampai disumpahi tidak lulus. Untunglah saat itu saya lulus dengan nilai rata-rata semua mata pelajaran 7. Tidak terlalu jelek bagi orang yang IQ nya rendah seperti saya.
 
Namun, sampai sekarang pun saya tetap membenci orang IPA. Di dalam organisasi pun mereka berlagak sok sibuk. Banyak praktikum lah, apalah, tugas inilah, itulah. 

Seperti hanya mereka saja yang belajar di kampus. Sedang yang lain cuma sampah. Saya pun pernah beberapa bulan yang lalu pacaran dengan orang IPA, jurusan biologi. 

Saat itu saya harap mampu merubah pikiran bahwa orang IPA itu sombong. Namun ketika saya benar-benar menyayangi gadis itu, dia malah memutuskan hubungan kami. Sakit banget rasanya. Tanpa alasan yang jelas.

Mulai saat itu bertambahlah rasa benci saya kepada orang-orang IPA. Bullshit, sok sibuk!!!!

Orang-orang seperti mereka tak pantas mendapat perhatian lebih dari manapun. Yang membuat saya heran, banyak orang tua bangga ketika melihat anak mereka masuk jurusan IPA. Tak dapat dipungkiri ayah saya pun lulusan IPA.

Saya Benci Orang IPA

masalah



elfaqar - Hari ini Rabu, 7 Juli 2010. Lama banget rasanya saya ga ada nulis di blog ini, padahal baru beberapa hari vakum. 

Akhir-akhir ini saya lagi pusing mikirin uang buat bayar SPP. Walaupun baru aja dapat beasiswa, tapi uang itu habis buat ngelunasin hutang sama makan sehari-hari. huh! cape... 

Otak saya yang sempit ini rasanya seperti dihantam batu yang beratnya mencapai berton-ton. Apalagi nanti ada tambahan bayaran uang PPL 2. Saya aja bingung, apakah PPL 1 bisa lulus atau gak. 

Kehidupan saya agak rumit akhir-akhir ini. Tak enak rasanya menjadi miskin dan bodoh, bumi yang luas terasa sempit. Sama seperti sempitnya kubur yang akan saya diami, sambil menunggu hari peradilan tiba.
 
Sekarang jam menunjukkan sekitar pukul setengah 6 sore, saya masih asik makai internet gratis di kampus. Berharap bisa menenangkan fikiran yang selalu melilit di otak. Sebenarnya saya pengen nyari kerjaan, tapi tampaknya saya agak trauma. Mungkin karena terlalu sering dipecat. 

Pekerjaan yang saya pegang tak pernah beres rasanya, saya merasa seperti manusia paling bodoh di jagat raya. Kemarin, seorang kawan baru saja menikah. 

"Cepat banget, padahal kami sama-sama kuliah satu kelas. Mungkin dia udah punya penghasilan yang cukup," pikir saya. 

Jangankan buat menikah, buat menghasilkan uang sehari-hari saja saya masih bingung. Sebagai introvert sepertinya tak ada pekerjaan yang cocok untuk saya.
 
huuuuhhh..... angin sepoi-sepoi serasa menyegarakan pikiran. Saya tenang, saya selalu berharap agar semua baik-baik saja. 

Terkadang saya sering berpikir, kenapa hidup itu mahal sekali harganya. Untuk makan saja orang mesti bayar, bahkan buang hajat pun juga bayar. 

Kehidupan di kota besar itu tak enak. Saya lebih suka di kampung. tenang, damai, tak perlu khawatir kelaparan. Seandainya saya bisa memutar balikkan waktu, saya ingin kembali ke masa dimana saya sering berbuat kesalahan. Ingin saya perbaiki semuanya.

Masalah

perjuangan



elfaqar - Hari ini Kamis, 1 Juli 2010. Hari yang cukup melelahkan. Hari-hari saya kembali normal seperti dulu, bertegur sapa kepada kawan-kawan. 

Tadi cukup gugup saat maju ke depan untuk microteaching mata kuliah media. Syukurlah berjalan sesuai rencana, tapi kayaknya saya tadi agak kaku. Tapi... ya sudahlah. Tak terlalu penting karena sudah berlalu. 

Sore ini saya duduk sambil menatap layar laptop dengan mantap, banyak sekali permainan baru yang saya download dari internet. Waktu lagi asyik berselancar, ternyata saya lagi berseberangan duduk dengan seorang staf kampus yang lagi curhat sama dosen. 

hihihi... lucu rasanya curhat mengenai kehidupannya. Dia bercerita tentang dirinya yang belum punya cowok, dan cerita lainnya yang cukup sedih tentang keluarganya. 

Agak miris mendengar cerita beliau. Tapi saya pikir itulah kehidupan, ada suka dan duka. Ada kalanya manusia merasakan perasaan suka dan bahagia di saat yang telah ditentukan oleh garis takdirnya. Namun, ada pula saat-saat dimana manusia memang harus menghadapi cobaan dan mengalami rasa duka yang mendalam.

Seperti yang pernah saya sebutkan sebelumnya bahwa hidup kita ini adalah sebuah perjuangan, dan bagi saya hidup merupakan perjuangan mencari kebenaran. Kebenaran yang saya pun tak tahu harus menuju arah yang mana, karena banyak sekali arah yang sudah ditempuh oleh orang-orang yg memperjuangkan kebenaran seperti saya.

Perjuangan Lagi