Aku berjalan di lembah yang kelam
Aku merintih di lubang sengsara
Aku ingin bersamamu ketika semua tiada
Tapi....
Aku lenyap
Aku hilang
Aku pun ditelan kelam
Semua hanya tinggal kenangan
Teringat kembali saat kita bersama
Saat kau berbagi suka
Saat kau memberi canda
Namun sekali lagi, semua telah lenyap dan hilang
Aku hanya merintih
Menanti pengadilan yang hakiki
Karena aku telah jatuh dan tak akan kembali lagi
Jatuh - Puisi
By Zulfikar
Rasa haru terus menemani. Saya menyesali diri karena telah mencoreng nama baik organisasi yang telah membesarkan dan memberi saya keluarga.
Hari ini 30 Juni 2010, saya masih merasa segan ngobrol bersama kawan-kawan, walaupun deras air mata tadi malam seakan merontokkan martabat yang saya miliki. Saya hampir kehilangan sesuatu yang sangat berharga di dunia ini "persahabatan".
Persahabatan yang tak pernah terfikirkan sebelumnya, persahabatan yang selalu saya impikan. dan mereka menerima saya dengan segala kekurangan. Maafkan saya sahabat, maafkan semua kesalahan saya yang begitu lalai dan hampir merusak semua impian kalian.
Tadi malam, hanya lewat tulisan saya mampu menuntaskan emosi, lidahk terasa kelu dan kaku. Tak ada sepatah katapun yang dapat terucap pada detik-detik yang sangat mengharukan itu.
Hanya kata-kata yang tak berisi yang sanggup saya tuliskan di secarik kertas itu. Air mata menetes tak berhenti, wajah semakin basah. Tertunduk malu di hadapan semua. Saya memang manusia bodoh, atau bahkan mungkin mahasiswa yang paling bodoh di kampus itu.
Dalam hal belajar saja saya selalu mendapatkan nilai jelek di kampus. Banyak dosen yang tidak menyukai saya, mungkin karena kebodohan ini yang terlalu mendarah daging.
Saya selalu berharap ingin cepat menemui ajal, agar tak lagi hidup menyusahkan orang lain dan kedua orang tua. Saya berfikir, jika mati pun mungkin tak ada seorang yang akan sedih atau bahkan mungkin bersyukur karena saya tak lagi menyusahkan hidup mereka.
Mungkin kehidupan setelah mati akan terasa menyakitkan bagi saya, karena semasa hidup saya hanya menebar maksiat. Saya tahu bahwa nanti akan diceburkan ke neraka jahanam, itu sudah tertulis di garis takdir, bahkan jauh sebelum bumi diciptakan.
malam yang kelam datang
aku masih sibuk dengan jam gadang
ketika semua berjibaku dengan pedang
aku lalai dalam berdagang
duniaku lalai
akhiratku lunglai
lemah tak terjamah
hingga hanya tersisa badan yang payah
terbakar aku di jahanam
karena benih yang telah kutanam
sekarang aku hanya diam
di dalam kubur menanti dalam
Penyesalan
By Zulfikar
Banyak sekali drama yang dimainkannya. Ada yang lucu, sedih dan semua mengandung nilai moral yang diperlukan bangsa.
Kawanku Masri masih asik chatting sambil mengunduh beberapa trailer dan film yang digandrunginya. Saya kagum padanya, dia begitu pintar. Tapi sayang saya adalah saya, dan dia adalah dia.
Saya menjadi diri sendiri, menjadi orang yang begitu bodoh. Selalu menyia-nyiakan waktu dan tak mampu menggapai apa yang saya inginkan.
Tak ada niat rasanya ingin beranjak dari sini, tapi pinggang agak sedikit pegal mungkin karena kelamaan duduk. Malam ini malam minggu, gak tau mau kemana, kantong kosong, beasiswa pun belum cair, hutang masih belum terbayar.
Letih rasanya menjalani hidup ini, banyak sekali penyimpangan yang terjadi. Bahkan saya sendiri pun sering melakukan penyimpangan itu. Kadang saya berfikir kenapa manusia diciptakan dengan nafsu, nafsu yang tak terkendali yang mampu menyesatkan manusia.
Kata ulama itu namanya godaan setan. Tapi saya heran, banyak juga ulama yang tergoda sama godaan setan. Beberapa ulama ada pula yang memanfaatkan titel kealimannya demi kepentingan dunia semata.
Saya jadi bingung ingin melakukan apa. Segalanya ada aturan, tapi kini aturan itu telah diubah oleh tangan besi si penguasa hanya demi menuntaskan hawa nafsu mereka.
Belum selesai satu kasus, muncul lagi kasus korupsi yang baru. Kapan dunia ini akan berakhir, kapan pengadilan yang serba adil itu tiba??
Godaan Setan
By Zulfikar
Jujur... saya ingin ikut, untuk bisa remedial nilai-nilai mata kuliah yang tidak lulus semester lalu. Tapi sayang beasiswa yang ditunggu-tunggu hingga sekarang belum juga cair, terpaksa tidak ikut.
Saya rasa biaya pendaftarannya mahal sekali, 50ribu rupiah per 1 SKS. Sedangkan saya ingin mengambil paling sedikit 4 SKS, bodohnya saya kenapa sampai tidak lulus mata kuliah itu.
Mungkin karena saya terlalu sibuk mengurusi organisasi yang sekarang bahkan tidak peduli kepada saya. Bahkan laptop yang saya pakai selama hampir 3 tahun tak dipedulikan seperti apa keadaannya.
Laptop ini memiliki sejarah besar yang mengubah kehidupan organisasi yang tak tahu diri itu, namun sekarang untuk ngisi baterainya saja harus nyambung-nyambung kabel.
Saya bukan orang yg gila sanjungan, tapi saya juga tak menghargai orang yang tak bisa menghargai yang lainnya.
Hidup ini terlalu rumit untuk dicermati dan untuk percaya kepada orang lain.
Di saat kita ingin menggantungkan harapan, jangan menggantung terlalu tinggi karena akan sulit bagi kita menggapainya ketika kita tak lagi memiliki sayap. Rumit memang tapi itulah kehidupan.
Rumit
By Zulfikar
elfaqar.blogspot.com - Udara dingin menyelimuti Banjarmasin saat ini. Sedingin hati saya yang malas untuk berbuat apapun. Saya bingung kenapa saya menjadi begitu malas.
Malas untuk memperjuangkan hidup saya sendiri. Untung saja masih ada kesempatan kedua. Hari ini Kamis, 24 Juni 2010. Seharusnya saya mengikuti ujian final pagi ini, tapi sayang ternyata ada tugas yang belum saya kerjakan. Jadinya tak ada yang bisa saya perbuat.
Terpaksa harus menunggu, menunggu, dan menunggu. Saya malu kepada diri sendiri, terlalu banyak mudarat yang tercipta. Saya tidak lagi berjalan sesuai cita-cita. Yakni menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.
Saya pun ragu apakah Tuhan masih ingin memaafkan kesalahan saya yang sudah berulang kali terjadi. Terkadang, saya merasa sepi di kehidupan ini. Tidak tahu harus kepada siapa untuk dapat bertukar pikiran. Hanya kenangan masa SMP lah yang bisa membuat saya tersenyum dan berharap waktu itu bisa kembali berputar.
Ingin rasanya saya memutar waktu dan kembali ke masa dimana saya masih memakai seragam biru putih. Masa dimana saya merasakan perasaan yang kata orang itu cinta. Saya memang bukan orang yang begitu menarik, baik dari segi penampilan maupun pergaulan.
Tidak berani mengungkapkan kalimat suka kepadanya. Hanya merenung dan berangan-angan. Pernah satu waktu saya tuliskan surat kepadanya, tapi dia tak tahu siapa pengirim surat itu. Romansa lama.
Ya sudahlah, tak usah dipikirkan.
Sekarang saatnya saya mencoba menata hidup kembali. Banyak sekali beban pikiran di kepala saya. Setiap saya berpikir, selalu mengalami kebuntuan.
Apakah karena saya telah jauh dari Tuhan?
Saya sudah mulai jarang sholat, ngaji dan segala hal yang berbau agamis.
Saya sering bangun kesiangan, dan parahnya saya melakukan beberapa kemaksiatan.
Masihkah Tuhan mau mengampuni saya?
Saya merasa telah rapuh dan tidak memiliki lagi masa depan yang cerah. Semua terkubur di dalam sanubari yang beku.
Hati yang Malas dan Tersesat
By Zulfikar
Gila bener, baru kali ini lihat waktu download film laju banget di kampus 300kbps. Kecepatan segini cukup kencang (ingat, ini baru tahun 2010).
Hari ini ujian PPL 1, semoga aja lulus. Soalnya ketika saya bikin RPP, rada bingung juga. rumit!!!
Saya semakin bingung, duit beasiswa belum cair. Padahal saya ingin ikut PAT. Huh! payah instansi ini, padahal sebulan yang lalu saya udah ngirim nomor rekening ke mereka.
Saya makin kasihan memikirkan kedua orang tua yang ada di seberang lautan sana, gak tega mau minta duit terus. Saya merasa terlalu menyusahkan orang lain.
Fikiran saya semakin pening ketika mengingat permasalahan di organisasi yang akhirnya mempengaruhi kehidupan saya sehari-hari.
Kebetulan saya tidur di sekretariat organisasi di kampus. Namun semakin ke sini, keberadaan saya di sana semakin tidak dianggap. Mungkin karena beberapa orang senior yang seangkatan dengan saya sudah mulai hilang.
Seandainya saya punya uang yang cukup, Saya pengen ngekost aja. Semoga beasiswa dari kabupaten Kotabaru cepat cair, karena cuma itu harapan saya satu-satunya.
Saya merasa kehilangan keluarga, terasa sekali kesendirian ini. Saya rasa tahun ini merupakan tahun kesedihan karena kehilangan mereka.
Tahun Kesedihan
By Zulfikar
Saya emang lagi pakai paket, biar bisa hemat internetannya. Hari ini saya harus kerja dan berfikir ekstra untuk menyelesaikan mini research, tugas akhir mata kuliah ELT.
Huh! bingung.... biarlahh yang penting tugas selesai. Seperti biasa, saya browsing sambil mengunduh beberapa film. Saya fikir ini adalah salah satu cara alternatif untuk menghibur diri sendiri.
Sebentar lagi paketnya habis, harus ngebut browsing dan downloadnya, untungnya saya selalu bawa software IDM dan Netcut di flashdisk, jadi bisa lebih cepat dari penghuni warnet yang lain.
Haha... Perbuatan ini memang kurang terpuji. Tapi itulah hidup, perlu usaha dan kecerdasan. Bukan saya menganggap diri saya lebih cerdas, namun ini salah satu cara untuk menyiasati hidup.
Hari ini gak ada kejadian menarik yang bisa saya tulis, huh! sungguh hari yang biasa.
Hari yang Biasa
By Zulfikar
Saat aku merasa murung dan ingin merenung
Kau datang
Kau datang
Saat ku tertawa dan bercanda
Kau hadir
Saat ku sempit dan terjepit
Kau muncul
Kau muncul
Kau sahabatku
Tak akan pernah tergantikan sepanjang waktu
Kini...
Kini...
Aku terpuruk oleh kebodohanku
Sehingga kau pun jauh dariku
Sehingga kau pun jauh dariku
Aku buntu
Aku terhanyut, pada jalan yang sempit seperti jalan kutu
Aku terhanyut, pada jalan yang sempit seperti jalan kutu
Semua ikatan telah terlepas
Karena kegoisanku lepas
Karena kegoisanku lepas
Aku berharap kita kembali seperti dulu
tertawa lepas
tertawa lepas
Sahabatku
Sahabatku - Puisi
By Zulfikar
elfaqar - Dini hari, tengah malam menjelang senin, tanggal 21 Juni 2010. Saya mencoba mengakses blogspot melalui ponsel murahan Sony Ericson K310i, ternyata bisa.
Tak sia-sia saya membuka blog ini. Mungkin bagi orang-orang yang sudah ekspert, ini hal yang biasa saja. Namun bagi saya ini luar biasa, karena saya tidak menduganya sama sekali.
Tampaknya akan sedikit pembaca yang akan membaca tulisan ini karena selama ini saya hanya menulis catatan di facebook. Tapi saya tidak peduli, tulisan ini mau dibaca atau tidak.
Besok pagi ujian final di hari pertamaku, mata kuliah Languange Testing. Saya tidak yakin mampu lulus mata kuliah ini, karena memang saya tak menyukai dosennya. Ditambah saya sering malas-malasan datang di mata kuliah beliau.
Sekali lagi saya berfikir, mampukah menjalani kehidupan dengan berbagai kegagalan yang saya miliki? orang yang seolah tidak memiliki tujuan hidup. Tujuan hilang dan berubah, terasa kabur dan sulit diraba setelah melihat dan merasakan kebohongan yang ada di dunia ini.
Benar jadi salah, dan salah pun menjadi benar. Manusia tak lagi berpihak pada yang namanya kebenaran. Semua dikuasai oleh kepentingannya masing-masing.
Bangsa yang dulu memiliki landasan dan dasar budaya ketimuran yang kuat, kini rapuh tak berdaya dihantam gelora budaya barat yang sudah merasuk ke raganya.
Para pemimpin bangsa ini pun saling berlomba memperkaya diri mereka, tunjangan anggota DPR selalu bertambah tiap tahun. Sedangkan rakyat semakin terpuruk menanggung akibat dari keserakahan manusia-manusia cerdas yang sekarang berpredikat menteri dan pejabat tinggi lainnya.
Semakin prihatin ketika melihat di ujung kota besar ada sebuah kerumunan rumah yang berjejer tak beraturan dan dikelilingi gunungan sampah yang disebut sebagai TPA atau tempat pembuangan akhir.
Saya miris ketika melihat di televisi yang memberitakan tentang seorang anak kelas 2 SD yang harus mengurus ibunya yang sedang sakit dan adiknya yang masih berumur balita. Semua pekerjaan rumah harus dikerjakannya sendiri. Saya tak melihat peran pemerintah di sana.
Mereka para pemimpin jahanam hanya koar-koar di media massa tentang pemulihan kehidupan bangsa, namun tak ada perealisasian yang konkret.
Semua hanya janji, janji, dan janji yang dijejalkan di otak rakyat.
Sekarang sudah hampir subuh, dan catatan ini semakin melantur kemana-mana.
Janji, Janji, dan Janji
By Zulfikar
elfaqar - Hari ini 18 Juni 2010, masih nyantai di kampus. Kampus yang menjadi tempat saya menimba ilmu, sekarang tidak tampak lagi hal-hal seperti itu. Setiap masa penerimaan mahasiswa baru, selalu menjadi ladang bisnis bagi para pejabat kampus.
Saya sebenarnya setuju saja dengan adanya program mandiri. Namun menurut saya, biaya yang mereka keluarkan terlalu mahal.
Tidak perlu jauh-jauh. Dengan diadakannya program mandiri saja, yang SPPnya mencapai jutaan sudah menjadi bukti nyata bahwa lembaga pendidikan ini telah berubah status menjadi lembaga usaha.
Calon mahasiswa baru yang tidak tahu apa-apa tentu saja menurut, karena mereka juga ingin seperti anak-anak lainnya. Berkuliah dan mencapai cita-cita yang mereka inginkan.
Saya sebenarnya setuju saja dengan adanya program mandiri. Namun menurut saya, biaya yang mereka keluarkan terlalu mahal.
Bagaimana tidak, mahasiswa yang notabene anak kos dari luar daerah itu harus membayar uang hampir 3 kali lipat lebih banyak daripada mahasiswa biasa untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Mungkin itulah salah satu jalan agar kampus cepat kaya.
Saya tidak melihat ada peran pemerintah disini. Pemerintah terkesan diam dan menyatakan hal itu sebagai "semi otonom". Saya tertawa geli di dalam hati, semi otonom yang mereka agung-agungkan bisa menjadi batu sandungan tersendiri. Sebab selalu ada oknum yang mengambil keuntungan dari segala macam bentuk kebijakan pemerintah.
Kampus pencetak guru tempat saya berkuliah, seakan berubah wadah menjadi kampus peraup keuntungan dari kepolosan calon mahasiswa barunya. Tagihan di sana-sini.
Hati saya miris ketika melihati seorang kawan tidak mampu membayar uang IKOMA (Iuran.... apalah dst).
Hingga sekarang, saya tidak pernah lagi melihatnya datang ke kampus. Saya mungkin orang yang setengah beruntung dapat bertahan di kampus ini, dengan uang tambahan dari beberapa beasiswa yang saya dapat. Serta gaji dari pekerjaan yang serabutan.
Tidak banyak intisari yang dapat diambil dari tulisan ini. Hanya saja, saya menghimbau kepada para pembaca agar mampu berpikir lebih kreatif dari para pejabat-pejabat yang korup dan hanya memanfaatkan jabatan mereka agar bisa meraup keuntungan dari berbagai penjuru.
Kampus Uang
By Zulfikar
elfaqar.blogspot.com - Hari ini jum'at 18 Juni 2010. Hari pertama nge-blog. Mungkin blogging pertama di blogspot. Walaupun sebenarnya saya sudah pernah punya blog di situs lain. Akan tetapi, terlihat kurang efektif karena isinya cuma tugas-tugas sekolah dahulu.
Mungkin blog ini akan menyambung dari beberapa catatan yang pernah saya buat di facebook beberapa waktu yang lalu.
Tidak mengerti bagaimana caranya, karena saya belajar secara otodidak Lagipula saya tidak punya sarana mendukung selain koneksi internet dan komputer.
Mungkin blog ini akan menyambung dari beberapa catatan yang pernah saya buat di facebook beberapa waktu yang lalu.
Kata mereka yang senang memabaca tulisan saya, lebih baik saya buat tulisan di dalam blog saja. Jangan bikin note di facebook. Agak lama saya berpikir, akhirnya dengan berbagai pertimbangan akan saya curahkan semua catatan di blog ini.
Tidak mengerti bagaimana caranya, karena saya belajar secara otodidak Lagipula saya tidak punya sarana mendukung selain koneksi internet dan komputer.
Satu hal yang pasti, blog ini akan menjadi sarana baru bagi saya untuk berekspresi melalui tulisan. Walau tidak sebagus tulisan-tulisan yang lain.
Mungkin sebaiknya saya akan memperkenalkan diri.
Nama saya Zulfikar, menurut fotokopi akte kelahiran yang sekarang sudah tidak ada lagi.
Saya lahir sekitar 20 tahun yg lalu tepatnya 27 Juli 1989.
Secara fisik, saya tidak begitu menarik. Bertumbuh bongsor. Berambut ikal, orang bilang mirip Nicholas Saputra. Wajah mungkin pas-pasan. Hampir mirip artis yang berperan sebagai Jacob di film Twilight.
Mungkin itu saja sekilas tentang diri saya. Tidak banyak yang dapat saya ceritakan di postingan pertama ini.
Belajar Nge-Blog
By Zulfikar
Langganan:
Postingan (Atom)










