About

Ban Serep

Ban Serep

Aku selalu ada, tapi jarang dianggap. Selalu dipersiapkan, tapi hanya dipakai ketika keadaan mendesak. Seperti ban serep di bagasi mobil, aku hidup dalam bayang-bayang. Aku adalah pilihan terakhir, seseorang yang diingat hanya saat keadaan mendesak. Tidak lebih.

Sejak kecil, aku terbiasa menjadi cadangan. Dalam keluarga, aku bukan anak emas yang dipuja-puja. Dalam pertemanan, aku bukan yang pertama diajak pergi. Aku hanya hadir ketika mereka tak punya siapa-siapa lagi. Saat teman-temanku sibuk dengan hidupnya, aku duduk di pojokan menunggu giliran, menunggu saat aku dibutuhkan. Tapi begitu mereka menemukan seseorang yang lebih baik, aku kembali dilupakan.

Saat kuliah, aku jatuh cinta pada seorang perempuan. Namanya Rina. Cantik, cerdas, dan penuh pesona. Aku selalu ada untuknya—mendengarkan ceritanya, menghiburnya saat dia sedih, menemaninya belajar. Tapi di akhir cerita, bukan aku yang dia pilih. Aku hanya tempat singgah sebelum ia menemukan seseorang yang lebih berarti. Seperti ban serep yang dipakai sebentar, lalu disingkirkan begitu ban utama sudah kembali berfungsi.

Dunia kerja pun tak jauh berbeda. Aku selalu jadi orang yang dihubungi saat ada proyek yang butuh penyelesaian cepat, saat tim butuh tambahan tenaga, saat ada masalah yang harus segera ditangani. Tapi ketika segalanya kembali normal, aku dilupakan lagi. Kenaikan jabatan? Bonus? Tidak, itu untuk mereka yang berada di garis depan, bukan untuk seorang ban serep seperti aku.

Lalu aku bertanya pada diri sendiri, sampai kapan aku terus menjadi pilihan terakhir? Sampai kapan aku membiarkan diriku hanya menjadi pengganjal?

Hingga suatu hari, sebuah ban mobil meletus di tengah jalan raya. Sopir panik, penumpang mengeluh. Tapi siapa yang mereka cari saat itu? Aku, ban serep yang selama ini mereka abaikan. Aku yang mereka pasang dengan tergesa-gesa, aku yang mereka andalkan untuk melanjutkan perjalanan.

Saat itulah aku sadar, meskipun sering dilupakan, aku tetap penting. Mungkin aku bukan pilihan utama, mungkin aku hanya digunakan dalam keadaan darurat, tapi aku punya peran yang tak tergantikan. Aku adalah penyelamat di saat genting. Tanpaku, perjalanan akan terhenti.

Aku tak lagi bersedih menjadi ban serep. Aku memilih untuk menerima diriku apa adanya. Mungkin aku bukan yang utama, tapi aku tetap berarti. Sebab tanpa ban serep, sebuah perjalanan bisa berakhir sebelum mencapai tujuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar