About

elfaqar.blogspot.com - Hidung masih meler, sekarang tanggal 2, besok tanggal 3. Horeeee... gajian!!! 
Ya... setidaknya itulah hal yang selalu dinantikan setiap menjelang awal bulan. Jika mengambil sebuah analogi, mungkin hari-hari menjelang gajian itulah yang bisa disebut sebagai "detik-detik proklamasi", "ambang kemerdekaan". 

Namun terkadang hal tersebut hanya berlaku sebentar saja. Tak lama kemudian, dimulai kembali perjuangan dan setiap harinya selalu mencari taktik baru untuk bisa terus bertahan. Sampai hari kemerdekaan (hari gajian) tiba.

Sebagian manusia menganggap dunia ini seperti ladang yang harus ditanami benih dan menuai hasilnya di kemudian hari. Sehingga mereka berlomba-lomba menanam benih yang paling murni dan bagus untuk dituai hasilnya nanti. 

Namun sebagiannya lagi menganggap dunia sebagai hutan belantara, dimana mereka harus bertahan hidup dan berjuang untuk generasi masa yang akan datang, dan terkadang hanya hukum rimba lah yang mampu menaklukkan hutan belantara itu.

Saya rasa itu sebuah komparasi yang seimbang untuk memaknai tujuan sebenarnya dari kehidupan ini. Walaupun di dalam kitab suci sudah jelas tujuan hidup manusia ialah untuk beribadah kepada-Nya. Akan tetapi, "waktu memang kejam" itu kata-kata yang sering saya lontarkan ketika sudah terlalu penat dengan semua problematika hidup ini. 

Saya hanya mampu menyalahkan waktu dan diri sendiri. Sungguh tidak mungkin aku menyalahkan Tuhan, sebagai penulis skenario hidup ini.

Saya teringat kepada salah satu frasa di dalam syair puisi Gie yang berbunyi :

tapi aku ingin mati di sisimu, sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya 
tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

tujuan hidup


Gie bertanya tentang tujuan hidup, sekarang itu tidak penting lagi. Karena Gie telah tiada. Mungkin sekarang ia telah mengerti jawaban dari semua puisi-puisinya. 

Begitulah penyair, mereka selalu, selalu, dan selalu saja bertanya. Pada akhirnya Tuhan sendirilah yang mampu menjawab semua pertanyaan mereka.

Sekarang, jika kita ngobrol soal tujuan. Ia tak terlepas dari maksud hidup. Seperti yang sudah dituliskan di atas, bahwa menurut kitab suci tujuan hidup adalah untuk beribadah kepadaNya. Namun itu hanyalah arti dari sebuah ayat. Tafsirnya bisa menjadi beragam bentuk, tergantung manusia yang menafsirkannya.\

Saya rasa tujuan hidup itu beragam, tergantung apa yang sedang dilakukan manusia tersebut. Seorang pendaki gunung sejatinya memiliki tujuan bukanlah puncak gunung yang ia capai. 

Seorang kawan mengatakan kepadaku bahwa "tujuan mendaki gunung ialah kembali dengan selamat", Saya rasa apa yang dia katakan ada benarnya. 

Tidak akan ada arti jika kita sudah sampai puncak, namun nyawa melayang. Ada lirik lagu yang kira-kira berbunyi seperti ini "aku pergi, untuk kembali"

Ada sebuah proses antara awal dan tujuan. Proses inilah yang menurut saya membentuk manusia sebagaimana yang ia mau. Namun terkadang, proses seringkali terlupakan. Kita lebih mementingkan tujuan. Pada akhirnya jalan-jalan pintas selalu digunakan untuk mencapai tujuan dengan cara sesingkat-singkatnya.

Gajian dan Tujuan Hidup, Apa Hubungannya?

elfaqar.blogspot.com - Hidung masih meler, sekarang tanggal 2, besok tanggal 3. Horeeee... gajian!!! 
Ya... setidaknya itulah hal yang selalu dinantikan setiap menjelang awal bulan. Jika mengambil sebuah analogi, mungkin hari-hari menjelang gajian itulah yang bisa disebut sebagai "detik-detik proklamasi", "ambang kemerdekaan". 

Namun terkadang hal tersebut hanya berlaku sebentar saja. Tak lama kemudian, dimulai kembali perjuangan dan setiap harinya selalu mencari taktik baru untuk bisa terus bertahan. Sampai hari kemerdekaan (hari gajian) tiba.

Sebagian manusia menganggap dunia ini seperti ladang yang harus ditanami benih dan menuai hasilnya di kemudian hari. Sehingga mereka berlomba-lomba menanam benih yang paling murni dan bagus untuk dituai hasilnya nanti. 

Namun sebagiannya lagi menganggap dunia sebagai hutan belantara, dimana mereka harus bertahan hidup dan berjuang untuk generasi masa yang akan datang, dan terkadang hanya hukum rimba lah yang mampu menaklukkan hutan belantara itu.

Saya rasa itu sebuah komparasi yang seimbang untuk memaknai tujuan sebenarnya dari kehidupan ini. Walaupun di dalam kitab suci sudah jelas tujuan hidup manusia ialah untuk beribadah kepada-Nya. Akan tetapi, "waktu memang kejam" itu kata-kata yang sering saya lontarkan ketika sudah terlalu penat dengan semua problematika hidup ini. 

Saya hanya mampu menyalahkan waktu dan diri sendiri. Sungguh tidak mungkin aku menyalahkan Tuhan, sebagai penulis skenario hidup ini.

Saya teringat kepada salah satu frasa di dalam syair puisi Gie yang berbunyi :

tapi aku ingin mati di sisimu, sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya 
tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu

tujuan hidup


Gie bertanya tentang tujuan hidup, sekarang itu tidak penting lagi. Karena Gie telah tiada. Mungkin sekarang ia telah mengerti jawaban dari semua puisi-puisinya. 

Begitulah penyair, mereka selalu, selalu, dan selalu saja bertanya. Pada akhirnya Tuhan sendirilah yang mampu menjawab semua pertanyaan mereka.

Sekarang, jika kita ngobrol soal tujuan. Ia tak terlepas dari maksud hidup. Seperti yang sudah dituliskan di atas, bahwa menurut kitab suci tujuan hidup adalah untuk beribadah kepadaNya. Namun itu hanyalah arti dari sebuah ayat. Tafsirnya bisa menjadi beragam bentuk, tergantung manusia yang menafsirkannya.\

Saya rasa tujuan hidup itu beragam, tergantung apa yang sedang dilakukan manusia tersebut. Seorang pendaki gunung sejatinya memiliki tujuan bukanlah puncak gunung yang ia capai. 

Seorang kawan mengatakan kepadaku bahwa "tujuan mendaki gunung ialah kembali dengan selamat", Saya rasa apa yang dia katakan ada benarnya. 

Tidak akan ada arti jika kita sudah sampai puncak, namun nyawa melayang. Ada lirik lagu yang kira-kira berbunyi seperti ini "aku pergi, untuk kembali"

Ada sebuah proses antara awal dan tujuan. Proses inilah yang menurut saya membentuk manusia sebagaimana yang ia mau. Namun terkadang, proses seringkali terlupakan. Kita lebih mementingkan tujuan. Pada akhirnya jalan-jalan pintas selalu digunakan untuk mencapai tujuan dengan cara sesingkat-singkatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar